Berkunjung ke Ngawi

Salah satu bagian yang menyenangkan dari pekerjaan saya adalah travelling. Kamis (12/8/2008) kemarin, ditemani Arif dan Hafidz, kami berjalan-jalan ke Ngawi. Seharusnya, kami berangkat dari kampus jam 5 pagi. Tetapi, saya terlambat menjemput mereka (kebiasaan he..he..he..), sehingga baru berangkat dari kampus jam 5.30. Kunjungan ini sudah saya rencanakan satu minggu yang lalu terinspirasi dari popularitas Dinkes Ngawi dalam menerapkan sistem informasi puskesmas. Saya pernah ketemu dengan dr. Pudjo (Kadinkes Ngawi) beserta drg. Endah (kepala Puskesmas Mantingan yang juga bu Pudjo) tahun 2005 di Padang di sebuah workshop tentang SIMPUS yang diselenggarakan oleh Binkesmas Depkes (pak Kuning Triadi cs). Saya juga pernah bertemu dengan bu Sri (sekretariat Dinkes) dalam suatu acara berkaitan dengan sistem informasi kesehatan yang diselenggarakan oleh teman-teman dari Dinkes Prov Jawa Timur (mas Hakky cs). Namun, baru kemarin itu saya baru berkesempatan melihat secara langsung dan berdiskusi dengan pimpinan dinas kesehatan, pengguna SIMPUS (operator, bidan) maupun tim software. Kata bu Endah, peserta acara di Padang sudah ke Ngawi, kecuali saya. Kunjungan ini bisa terwujud atas jasa bu Paulina, alumni KMPK UGM yang dulu pernah meneliti tentang aksesibilitas pelayanan KIA di kabupaten Ngawi.

Sebenarnya ini adalah kunjungan kedua. Sebelumnya, bersama Harmi saya sempat ke Ngawi untuk mengikuti acara Binkesmas tentang SIMPUS juga. Namun, waktu itu hanya mengikuti acara seminarnya saja, tidak sempat berkunjung ke lapangan. Perjalanan Jogja-Ngawi normalnya memakan waktu antara 3-4 jam. Jam 9 lebih sedikit kami sudah sampai di kantor Dinkes Ngawi.

Sesampai di Ngawi, kami bertemu dengan bu Sri, bu Gunarti, mas Pur didampingi bu Paulina sambil nunggu pak Pudjo. Sebenarnya saya ke Ngawi untuk belajar tentang bagaimana cara Dinkes Ngawi dalam mengintegrasikan program KIA dari sektor swasta dan pemerintah. Hal ini berkaitan dengan penelitian saya di kabupaten Sleman tentang integrasi sistem surveilans KIA. Memang Sleman sangat berbeda dengan Ngawi dalam hal pertumbuhan sektor swasta. Dengan jumlah penduduk yang relatif tidak jauh berbeda (900 ribuan), kabupaten Sleman unggul dalam jumlah bidan praktek swasta, SPOG, rumah sakit bersalin, balai pengobatan, serta rumah sakit (baik swasta maupun pemerintah). Jumlah puskesmas hampir sama.

Diskusi di ruang rapat semakin rame setelah pak Pudjo bergabung. Saya menyimpulkan (bisa keliru) bahwa Dinkes Ngawi dapat mengintegrasikan data program KIA dari sektor swasta karena beberapa hal:
-Sejarah penempatan SPOG di puskesmas PONED (dan menjadi PONED Plus) sebelum beliau akhirnya ditempatkan di rumah sakit meskipun status kepegawaiannya tetap sebagai staf dinkes (bukan rumah sakit). Di Kab Ngawi hanya ada 2 SPOG. Dulu ada 3, yg dua di rumah sakit daerah yang 1 nyantol di Dinkes.
-Kebijakan peningkatan akses layanan KIA (pasien diharapkan minimal 1 kali kontrol ke SPOG) serta kemitraan dengan kader (insentif bagi kader/posyandu dalam menemukan sampai dengan memonitor ibu hamil hingga bersalin Rp 10.000 per bumil)
-Kemitraan dengan bidan praktek swasta melalui IBI serta dikembangkannya bidan sub koordinator yang mengawasi 2 puskesmas.

Hal tersebut juga ditegaskan oleh bidan sub koordinator yang waktu itu juga sedang ada pertemuan di Dinkes. Kemudian, kami mampir ke ruang server. Mas Pur sempat menunjukkan ke saya aplikasi SMS Gateway sumbangan dari program CSR Indosat. Wah, jika setiap operator memiliki program CSR untuk dinkes saya kira akan banyak dinkes yang terbantu. Wong, mhs SIMKES sekarang juga ada yang sedang meneliti tentang pengembangan sistem surveilans berbasis SMS. Mas Pur juga sempat menunjukkan aplikasi SIMPUS Ngawi serta kemampuannya untuk mencari data individual. Sebenarnya, data individu di Dinkes merupakan isu yang cukup menarik karena terkait dengan masalah privacy dan confidentiality. Sayang, saya tidak sempat tanya secara rinci tentang jaringan wireless yang menghubungkan seluruh puskesmas di Ngawi.

Siangnya, saya ke Puskesmas Purba dan Puskesmas Mantingan. Di Puskesmas Purba kami sempat diskusi dengan mas Marno, salah satu anggota tim software SIMPUS. Dia menunjukkan langkah untuk mencari data secara rinci. Penggunaan metode pencarian tertentu (query) sangat tergantung kepada kebutuhan puskesmas. Kami akhirnya, mampir di Puskesmas Mantingan dalam perjalanan kembali ke JOgja. Di Puskesmas yang memiliki 20-an komputer ini, bu Endah masih menanti kami. Para bidan pun juga belum pulang (terima kasih semuanya) menunggu kedatangan kami. Yang saya kagumi adalah komitmen tenaga kesehatan dalam menggunakan aplikasi tersebut. Salah satu bidan mengatakan, “Dulu, kami takut menggunakan komputer. Takut rusak. Kemudian, kami takut jika tidak menggunakan komputer karena dimarahi bu Endah. Sekarang, kami sudah tidak takut, tapi sudah menjadi kebutuhan, karena data saya ada di komputer.” Luar biasa….

Hari berikutnya, kebetulan ada tamu dari GTZ dan peserta pelatihan manajemen data SIMPUS NAD di labkom Radioputro. Setelah diskusi tentang kondisi SIMPUS NAD, sebelum saya mulai dengan analisis data yang ada, saya sampaikan kepada para peserta bahwa GTZ dan Malteser mungkin mampu membeli software SIMPUS Ngawi serta menyediakan perangkat keras ke puskesmas di pantai timur NAD. Tetapi, yang juga harus dibeli adalah leadership kepala dinas dan kepala puskesmas, keberadaan tim software yang terus menerus memperbaiki software, komitmen pengguna sistem serta kemampuan pengguna dalam mengekstraksi data serta menganalisisnya sesuai dengan kebutuhan.

17 Tanggapan to “Berkunjung ke Ngawi”

  1. dani Says:


    …yang juga harus dibeli adalah leadership kepala dinas dan kepala puskesmas, keberadaan tim software yang terus menerus memperbaiki software, komitmen pengguna sistem serta kemampuan pengguna dalam mengekstraksi data serta menganalisisnya…


    🙂 walah lha yg mahal bag itu pak ya..
    leadership ini apakah memang dari internal puskesmas dl atau atasannya yg ‘rajin’ duluan ya pak..
    tim software-nya outsourcing ato gemana pak..

  2. dino Says:

    Ternyata software itu adalah bagian terkecil dari bagian lain yang musti ada dalam pengembangan sistem informasi, seandainya para pimpinan dinkes di daerah lain tahu mengenai hal ini………(menjadi tugas mahasiswa SIMKES, ya pak?)🙂

  3. anisfuad Says:

    Dani:
    bagian itu yang memang sering terlupa. Seringkali orang beranggapan, jika sudah pakai software semua sudah selesai. Padahal ya padahal ….
    Pengembangan simpus di Ngawi justru dari puskesmas dulu inisiatornya (kalau ada orang Ngawi yang baca, tolong dikoreksi ya…). Baru kemudian ke dinkes. Tetapi, sistem informasi yang komprehensif tingkat dinas saya belum melihatnya. Tetapi, memang kepala dinasnya OK banget dalam mendorong implementasi simpus.
    Tim software dibentuk sendiri oleh dinkes beserta wakil dari puskesmas. Ada 12 orang anggota.

    Dino:
    Betul. Berani menerima tantangan? he..he..he..

  4. Simpus KIA - Harapan dan Kemungkinan « Puskesmas [dot] info Says:

    […] sejawat yang juga udah nongol puskesmas-puskesmasnya di belantara maya ini, sekalian jagoan-jagoan sistem informasi tolong ikutan nimbrung .. [maaf lho .. yang belum dipanggil, yang nyasar masuk kemari .. hayuuk […]

  5. Dedy Says:

    Wah..enak ya ke Ngawi, salah kenal juga, aku asli Ngawi loh he he he he …

    BTW, sempat ke Benteng Pendem ga ney or ke Masjid Jami Ngawi ????

  6. Agus P. Says:

    Saya sangat sependapat, terpenting bukan softwarenya. Lebih dari itu bagaimana petugas itu komitmen dengan data. Tapi yakinlah bahwa teman2 Puskesmas yang sadar data tidak lebih dari 5%. Mereka mau mencatat dan melaporkan karena mereka diperintah atasan atau karena rutinitas.
    Jadi membuat software di Jajaran kesehatan harus bersifat keharusan tidak perlu menunggu kesadaran petugas. Jadi pendekatannya adalah bagaimana software itu mudah dan sangat meringankan pekerjaan petugas kita.
    Untuk software pendekatan dari bawah memang akselerasi di Puskesmas mudah . tetapi ketika harus digabungkan di kabupaten justru petugas kabupaten yang sulit . Tetapi kesulitan relatif lebih mudah dibanding pendekatan dari atas kebawah. Ini semua karena di ngawi pernah memakai 2 software dengan 2 pendekatan, yaitu topdown berupa aplikasi inkes dari HP IV dan buttom up berupa Simpustronik yang kita pakai sampai saat ini.

  7. wietsnowy Says:

    Apa kabar pak Anis, sayang kita belum ada kesempatan Travelling bersama ya? Dengar-dengar baru Road Show di Jawa Timur, saya tunggu oleh-olehnya.🙂

    Berbicara mengenai penerapan aplikasi Sistem Informasi Manajemen memang tidak ada habisnya, karena terdapat beberapa komponen yang secara proporsional mendukung keberhasilan dalam menerapkannya.
    Menurut saya, beberapa komponen pendukung tersebut bisa dikelompokkan menjadi 3 faktor, yaitu :
    1. Teknologi
    2. Sumber Daya Manusia
    3. Sistem Prosedur
    di mana ketiganya memiliki kontribusi yang sama pentingnya, jadi maaf kalau saya kurang sependapat dengan pak Agus yang menulis “terpenting bukan softwarenya”.
    Sumber Daya Manusia yang bagus pun tidak mutlak mendukung keberhasilan penerapan aplikasi SIM bila Sistem Prosedurnya berliku dan Teknologi yang digunakan tidak dapat mengimbangi. Begitu pula sebaliknya.
    Sehingga idealnya, ketiganya haruslah saling mendukung.
    Ketika semuanya saling mendukung, pada pelaksanaannya, sesuaikan dengan kondisi riil yang ada, dari situlah “starting point” dapat ditentukan, mengadopsi kosa kata pak Agus : “pendekatan”.

  8. wisnu Says:

    no comment
    sorry
    aq ra mudeng

  9. priyanto Says:

    banyak sim, setiap daerah bikin, beda2 platform, beda2 sistem, beda2 database, kapan bisa terintegrasi

  10. Simpus KIA - Harapan dan Kemungkinan « Pieces of Mind Says:

    […] sejawat yang juga udah nongol puskesmas-puskesmasnya di belantara maya ini, sekalian jagoan-jagoan sistem informasi tolong ikutan nimbrung .. [maaf lho .. yang belum dipanggil, yang nyasar masuk kemari .. hayuuk […]

  11. ppwskia Says:

    ingin rasanya main ke ngawi tuk belajar tentang simpus di sana. Saya sudah mendengar simpus ngawi dan kedengarannanya sangat populer. Kalo mo ikut kunjungan ke ngawi prosedurnya gmana ya pak? Kami juga mo belajar cara pengembangan software simpus nih. Kebetulan kami juga sedang mengembangkan software untuk kegiatan PWS KIA dan kami ingin mengintegrasikan dengan SIMPUS. Boloh dong belajar disana..🙂

  12. anisfuad Says:

    PPWSKIA: Kontak saja dengan Dinkes Ngawi. Ada dr. Agus Priyambodo email: aguspriyambodo[at]telkom[dot]net atau di website di http://dinkesngawi.net Atau mas Purwantoro yg juga punya blog di http://www.lintasanide.blogspot.com

  13. peluang kerja mandiri Says:

    ngawi termasuk kabupaten miskin di jatim moga aja ada yang perhatian

  14. cicik Says:

    Wah, memang Leadership itu yang penting Pak Anis, doain ya ini dinkes Kabupaten Ponorogo juga mau mengimplementasikan SIMPUS tapi tahap awal diuang loket dulu

  15. keabsahan ace maxs Says:

    blog walking son ijin nyimak dulu ya

  16. Obat Penghancur Lemak alami Says:

    Kekasihku, tolong janganlah menyuruh aku untuk berubah, karena aku bukan satria baja hitam RX.
    http://goo.gl/POgl9r


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: