Melawat di Malaysia menghadiri eAsia

Senin sampai Jumat (5-9 Februari) kemarin main ke negeri tetangga, Malaysia untuk menghadiri seminar eAsia. Saya beruntung mendapatkan undangan untuk mengikuti acara tersebut atas jasa Dr. HM Goh, sekretaris Asosiasi Informatika Kedokteran Malaysia. Pihak panitia menghubungi HM untuk menyusun program acara ehealth satu bulan yang lalu. Sebenarnya, dalam acara yang disusunnya juga terdapat nama Prof. Jack Li, presiden APAMI saat ini yang berasal dari Taiwan, Klaus D Veil, Chair of HL7 Healthcare Standards(Australia), Datuk Dr. Teoh Siang Chin, President Malaysia Medical Association serta Dr. Alvin Marcello Director, National Telehealth Centre, dari Philipina. Tetapi sayang, beliau-beliau gagal hadir.

Waktu mampir ke kantor HM di KL, kami sempat ngrasani pihak penyelenggara yang nampaknya tidak memiliki orang yang secara khusus ngurusi ehealth , sehingga mengandalkan HM untuk mengatur acara. Katanya, pihak penyelenggara mengiba-iba minta bantuan HM di kantornya kurang lebih sebulan yang lalu. Akupun dapat pemberitahuan resmi dari pihak penyelenggara sekitar tiga minggu yang lalu. Nampaknya, ehealth memang bukan prioritas utama karena pada saat yang bersamaan ada empat seminar paralel lainnya yaitu e-gov, e-learning, telecentre dan mobile-serve. Aku memang tidak menghadiri yang lain, tetapi sekilas nampak bahwa seminar ehealth memang kalah rame. Di group tersebut, maksimal pesertanya (termasuk pembicara) sekitar 30-an yang muncul tiap hari di ruangan tersebut.

Namun, jumlah tersebut ternyata malah mempermudah diskusi yang konstruktif (*halah nyari alasan he..he..*). Tidak hanya itu, saya belajar banyak mengenai ehealth di beberapa negara seperti India, Filipina, Malaysia, Australia, AS maupun Inggris. Manfaat lainnya adalah jejaring. Saya bertemu dengan banyak teman baru serta memperdalam relasi. Selepas seminar, di kantor group Amorpheus saya membicarakan prospek dan potensi kerjasama. HM dan Dr. Azrin menceritakan tentang pengalaman, strategi bisnis serta kesibukannya sebagai konsultan informatika kesehatan. Dr. Azrin sebelumnya adalah Chief Information Officer di Hospital Selayang yang dikenal sebagai rumah sakit paperless pertama di Malaysia. Mereka berdua kemudian membentuk lembaga konsultan yang saat ini sudah banyak membantu beberapa rumah sakit di Malaysia dalam manajemen proyek sistem informasi rumah sakit maupun menyiapkan rencana strategik SIM RS.

Hari kedua, selepas seminar saya diajak jalan-jalan oleh Dr.Azrin bersama dengan dr.Ahmad Taufik (dosen sekaligus CIO Hospital Universiti Kebangsaan Malaysia) dan Azmi Hashim, vendor PACS. Kami makan malam di salah satu restoran India di Suria KLCC sambil bertukar pengalaman. Hal yang lucu adalah ketika Azmi cerita bahwa kalau di Indonesia “maternity clinic” namanya adalah “rumah sakit korban lelaki”. Padahal, di Indonesia juga ada joke serupa tentang Malaysia yang sebenarnya juga tidak ada. Cerita juga melebar ke banjir Jakarta, bom Marriot serta plesetannya yaitu Mak Erot.

Hari ketiga, saya mencoba jalan sendiri ke KLCC dengan taksi dari hotel. Tarif taksi hotel lumayan mahal yaitu 70 RM. Para pembicara dan sebagian peserta tinggal di Hotel Marriot Putrajaya yang akses ke transportasi publik agak ribet. Kalau pingin lebih menghemat memang lebih baik telpon taksi dari luar hotel saja. Tetapi, masih harus nunggu 15 menitan. Karena berangkat dari Hotel sudah malam, saya tidak sempat jalan-jalan ke menara kembar tertinggi di dunia itu. Ujung-ujungnya hanya mampir ke toko buku. Teman saya menyarankan ke Borders karena bisa sambil baca-baca. Tetapi karena waktunya mepet akhirnya aku kembali Suria KLCC dan mampir di Kinokuniya. Sayangnya, saya hanya sempat beli tiga buku (how to lie with maps, social epidemiology dan data mining). Ada beberapa buku menarik lain tapi tidak terbeli karena kartu kreditku gak bisa kebaca. Kenapa ya? Pulanya, aku mencoba menggunakan MRT. Dari KLCC ambil jurusan KL Sentral (hanya 1 koma sekian RM). Kalau gak salah hanya melewati 5 perhentian. Kalau lain kali jalan-jalan di KL, jika pingin berhemat ambil tiket harian yang hanya sekitar 2 RM. Dari KL Sentral aku naik KL Transit ke arah PutraJaya. Keretanya jelas lebih nyaman daripada di tempat kita. Tidak hanya keretanya saja, tetapi suasana stesyen dan lingkungannya. Saking nyamannya, aku ketiduran sehingga kelewatan. Untung saja hanya kelewatan satu stasiun. Kalau tidurnya lebih nyenyak lagi, bisa-bisa aku terbangun di KL International Airport. Akhirnya, aku turun di stesyen Salak Tinggi dan menunggu kereta ke arah KL Sentral lagi. Sesampai di Putrajaya stesyen, ambil taksi menuju hotel. Sebenarnya juga ada bas, tetapi daripada kebablasan lagi. Hitung-hitung lebih murah pakai kereta daripada pakai taksi, bedanya 40 RM sendiri. Tapi ya risikonya nganggo kebablasan he..he..he..

Hari terakhir, aku diajak jalan LG Lim, pegawai KKM (Kementrian Kesihatan Malaysia) melawat di Klinik Kesihatan Putrajaya dan Hospital Putrajaya. Klinik Kesihatan Putrajaya merupakan salah satu icon ehealth Malaysia. Klinik ini berpegawai 90-an yang memberikan pelayanan rawat jalan maupun layanan kesihatan awam (kesehatan masyarakat). Dengan jumlah kunjungan bisa mencapai 700 pasien per hari, manajemen sistem dan teknologi informasi benar-benar menjadi tulang punggung. Saya diajak Ms Mourin melihat-lihat proses pendaftaran, triage, antrian di klinik serta penggunaan rekam kesehatan elektronik yang semuanya berbasis IT. Setiap pengunjung harus menggunakan mesin antrian. Bagi pasien baru tersedia formulir isian data demografis untuk diisi. Tetapi, ini nampaknya hanya berlaku bagi yang bukan warga negara Malaysia. Selanjutnya pasien akan dipanggil di bagian pendaftaran. Bagi warga negara Malaysia, mereka hanya perlu menyodorkan MyKAD, smart card KTP Malaysia, yang selanjutnya dibaca di card reader. Bedanya dengan Taiwan adalah smart card ini tidak menyimpan data kesehatan. Ini merupakan infrastruktur penting di Malaysia sehingga kalau orang Malaysia kembali dari LN mereka hanya tinggal melenggang sambil menempelkan smart card tersebut di mesin loket imigrasi (jadi teringat antrian di Imigrasi bandara Soekarno Hatta). Di bagian pendaftaran, pasien akan ditanya tentang tujuan kunjungan. Komputer di bagian pendaftaran dilengkapi dengan mesin pemanggil antrian serta mesin pembuat nomer urut kunjungan ke masing-masing bagian (dokter, laboratorium atau makmal, imej, dll) Jika akan ke dokter, akan ditriase oleh MA (medical assistant) terlebih dahulu, kecuali jika sudah ada perjanjian sebelumnya. MA inilah yang nantinya akan menanyakan keluhan utama, termasuk menyarankan pemeriksaan laboratorium sebelum ke dokter. Dia bukan dokter, bukan perawat, juga bukan bidan. Konon, pendidikannya di college selama 3 tahun. Petugas ini juga mengandalkan komputer saat melihat antrian, memasukkan keluhan utama, memasukkan order pemeriksaan laboratorium. Jika si pasien sudah berada di ruangan si dokter, dia harus men-scan kembali nomer urut yang telah diberikan oleh petugas sebelumnya sehingga dokter yang berada di ruang praktek akan melihat nomer urut tersebut di komputernya. Si dokter tetap menggunakan komputer untuk memasukkan data rekam medis pasien. Di klinik tersebut ada dokter umum serta dokter FMS (family medicine specialist). Di komputer juga terlihat jadwal si dokter, termasuk berapa kunjungannya tiap hari. Rata-rata seorang FMS memeriksa pasien antara 20-40 menit. Klinik tersebut buka dari jam 8-13, kemudian istirahat 1 jam dan buka lagi sampai jam 16.00 sore. Semua layanan tersebut cukup dengan biaya 1 RM. Mereka juga masih memiliki unit yang kesihatan awam, termasuk yang mengamati penyakit berjangkit (menular), school health serta home visit bagi ibu yang baru melahirkan. Sistem informasi dikendalikan oleh vendor. Saya bertemu dengan 2 orang wakil dari vendor yang memelihara sistem tersebut.

Siangnya saya mampir ke Hospital Putrajaya, tetapi hanya di bagian ITnya saja. Saya ngobrol dengan wakil dari vendor (vendor yang sama untuk Klinik Kesihatan) di ruang server yang cukup besar yang berisi lebih dari 10 server. Yang menarik saya kira adalah strategi manajemen informasinya. Jika Wan Fang, Taipei pendekatannya adalah inhouse, di sini strategi outsourcingnya cukup berhasil. Empat hari melawat… cukup puas. Lain kali pingin ke sini lagi ah…

8 Tanggapan to “Melawat di Malaysia menghadiri eAsia”

  1. Evyhttp://senyumsehat.wordpress.com/ Says:

    Hayyo sudah sering jalan2, bikin dong pak..di Indonesia…smartcard, mosok kalah sm Malaysia (ngomporin terus neeh). Klo udah ada mau research segala khan gampang tinggal buka data…(nah ini tujuannya…). Wah ke Taiwan ga bakal ketiduran kalau ngerasain kasur keras…tapi kalau tidur di hotel sih lain…lha aku gratisan di undang smiletrain jd nginep di dormitory-nya Changgung… Kalau dosen jalan2 yang di beli buku ya… pancen cocok..hebat tenan, kalau aku cari makanan khas…hehehe dasar tukang makan…comentnya panjang ya…berarti di baca semua khan…huehuehue…nuwun sewuu

  2. anis Says:

    evy:
    iya ya…mestinya bikin smartcard lebih mudah daripada bikin smartpeople. Ini saja sudah beli buku dan baca sana-sini juga tetap gak smart-smart….Ada resep jitu nggak?
    Lho yang kebablasen ketiduran khan di kereta, yang kursinya jelas lebih keras daripada kasur hotel. Waktu di Taiwan juga nginep gratisan di dormitory di NTUST (National Taiwan University of Science and Technology). Nggak keras-keras amat kok kasurnya. Saya pingin doyan makan, pingin kayak Bodan Winarno itu… tapi kok belum bisa-bisa ya? Mbok diajarin…. Apa harus buka mulut dulu ya?

  3. cakmokihttp://cakmoki86.wordpress.com Says:

    Hebat, hebat.
    Membaca tulisan ini, mak cep klakep rasanya nggak iso ngomong.
    Urusan begini mengapa kita bagian buncit ya ?

  4. anis Says:

    cakmoki:
    Malaysia hanya berpenduduk 26 jutaan. Dilihat dari jumlah, lebih kecil dari Prop Jawa Tengah. Namun, mereka memiliki planning dan manajemen yang baik. Mereka masih menggunakan model Repelita (masih ada yang ingat nggak ya?). Saat ini mereka menggunakan 9MP(ninth Malaysian Plan). Dalam 9MP memang tertulis target mengembangkan paperless hospital sebagai bagian dari stategi nasional Kementrian Kesihatan Malaysia. Dan itu terintegrasi dengan rencana strategik pengembangan sistem informasi nasional, sebagaimana infrastruktur MyKAD. Dr. Azrin Zubir, mantan CIO Hospital Selayang juga tidak pernah sekolah informatika kedokteran. Dia dokter tetapi mengambil master di teknologi informasi. Dr. Ahmad Taufik (CIO HUKM dan dosen public health UKM) juga mengambil master IT (umum) dan public health. Makanya, kemarin saya joke dengan mereka bedanya informatika kedokteran di Malaysia dan Indonesia adalah yang satunya berkarya, sedang yang di Indonesia hanya melawat saja (*sedih saya*). Dari berbagai indikator (health systems performance WHO, human development index UNDP, digital access ITU) kita (Indonesia) lebih rendah dari mereka. Tetapi, jika bicara propinsi, saya kira ada beberapa daerah yang bisa mengejar. Kaltim, Kepri atau Gorontalo mungkin mau mengejar?

  5. hybana Says:

    yak katanya orang jawa mak cep klakep. ndak bisa ngomong apa-apa, kita kalau ngomongin sistem informasi kesehatan. Kapan nih para pejuang IT dan kesehatan bareng-bareng ngangkat drajate kesehatan lewat IT ? apa bisa ya ???? optimis aja deh..

  6. cakmoki Says:

    Kita sudah meninggalkan repelita, sekarang sudah canggih (dalam hal program), aplikasi koq sulit ya.
    Ngejar apa Pak ? Wong cari partner aja masih sulit.
    Pak Anis pernah diminta ke Kaltim mbahas seputar informatika nggak ?

  7. Dani Iswara Says:

    kl mo studi banding, selevel mana ya..

  8. purwanto-dinkesngawi Says:

    Wah… asyik ya, seolah-olah saat saya baca, saya membayangkan terbang ikut ke malaysia. lain kali kalo ada jalan-jalan ke luar negeri tentang sistem informasi kesehatan saya diajak ya (he..he..he… ada udang dibalik kkrupuk). Kalau baca gambaran pelayanan di klinik kesehatan putrajaya kok sudah hampir sama dengan di ngawi cuman bedanya ada smartcard. (kalu SIN KTP dah berlaku kayaknya kita bisa juga kayak klinik di malaysia).
    terakhir trim’s atas infonya walau tuelattt bacanya. mudah2an bisa menginspirasi dan memotivasi kami untuk tambah kreatif.
    Salam….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: