Kaget, sedih, trus bangkit kembali….

Tadi pagi, pak Hari, saya, Harmi, Sugeng, Nia, Kaka dan Adi rapat. Sudah lama saya gak ketemu dengan Adi. Kemarin, Adi juga kaget ketika diberitahu ada rapat tentang pembuatan buku. Katanya, bukannya draft buku sudah lama diserahkan ke mas Anis….

Nah, begini critanya. Lima hari yang lalu, saat jalan-jalan di TB Gramedia di Solo Square saya membeli beberapa buku. Sesampai di rumah, saya kaget setengah mati setelah melihat salah satu buku ternyata “copy and paste” materi workshop kami di tahun 2005. Nggak tanggung-tanggung, dari 194 halaman, materi yang dari workshop tersebut kurang lebih 150 halaman sendiri. Kesamaannya mulai dari judul bab, subjudul, narasi dengan perubahan sedikit, gambar screenshot sampai ke script program. Saya hampir nggak percaya. Memang dalam daftar pustaka disebutkan tentang workshop kami, tetapi tidak menyebutkan nama penulisnya. Cuma yang saya herankan adalah keberanian melakukan “copy and paste”. Pelaku mengatakan bahwa dia tidak tahu jika hal tersebut melanggar etika penulisan. Saya sulit memberikan penilaian apakah jawabannya jujur atau tidak. Tetapi, ini benar-benar menjadikan saya sedih sekali. Niat baik kami memberikan “soft copy” berakhir menjadi pelanggaran etika penulisan. Padahal saya terinspirasi dengan Dr. Richardus Eko Indradjit yang memberikan draft bukunya dalam bentuk soft copy secara gratis sewaktu saya mengikuti presentasinya di salah satu seminar.

Terus terang, alasan membeli buku tersebut adalah karena saya mengenal salah satu penulisnya, yang merupakan peserta workshop kami. Akhirnya, setelah berSMS-an, akhirnya saya ketemu dengan kedua penulisnya dan mereka meminta maaf atas kejadian ini. Sebelumnya, beberapa rekan dosen meminta saya untuk bersikap tegas dengan mengirim surat kepada yang bersangkutan dan atasan di institusinya. Pada pertemuan tersebut saya hanya meminta mereka untuk menarik buku tersebut. Tentu saja, saya mengharapkan ada realisasi dan bukti penarikan bukunya. Tentang ajakan menulis bersama, saya masih pikir-pikir.

Karena kejadian itulah pak Hari menyarankan agar beberapa materi workshop yang sudah pernah dilakukan dituliskan menjadi buku. Komentar Adi, “ooo ini to yang membakar he..he..he..” Yah, semoga ini menjadi pembakar semangat. Tadi pagi kita sudah membahas garis besar buku pertama. Besok pagi, akan saya serahkan ke mas Sugeng untuk diatur tata letaknya. Semakin cepat semakin baik, daripada sakit hati lagi….

14 Tanggapan to “Kaget, sedih, trus bangkit kembali….”

  1. Anonymous Says:

    Plagiat mang menjengkelkan Mas Anis, tp saya ikut senang kl mas mo bikin buku. Kl udah diterbitkan kasih tau ya, saya mo beli edisi hard covernya he.he. Saya juga berminat ama pelatihan2 yang rencananya akan diadakan tahun ini. Mohon informasinya kalau jadwalnya dah ditetapkan. Saya mhs KMPK kelas Padang yg kmrn blajar epi info, sy ingin blajar byk tentang simkes. Di daerah, kita slalu gaptek. (wenimd)

  2. cakmokihttp://cakmoki86.wordpress.com Says:

    Usul pak, mengingat yang dicopy pate mencapai 77,3%, gimana kalau royalty sesuai persentase ?
    hahaha.
    Kebangetan, mosok to pak gak diubah dikit-dikit babar pisan.
    Ceritanya, penulis beli karya sendiri. Bisa untuk postingan dong. *asli saya prihatin campur kudu ngguyu*

  3. dani iswarahttp://daniiswara.wordpress.com/ Says:

    yah masi ada aja..
    saking gampangnya bikin buku..

  4. Yusuf Alam Romadhon Says:

    menyedihkan sekali dan sakit hati saya bisa merasakan itu… menulis buku itu butuh waktu lama, stress, melelahkan..penuh tekanan… tahu-tahu kok ada orang lain yang mengaku-ngaku…bikin kesel dan sebel… bukan masalah materi itu tetapi kejujuran itu yang penting.. salam kenal dari saya Yusuf Alam Romadhon… saya juga penulis buku lho! kalo mau lihat judulnya “Doctors Market Yourselves atau Praktik Anda Tidak laku?” di TB Gramedia Solo Square tidak ada… adanya di TB Gramedia Induknya di Solo

  5. anis Says:

    wenimd: thanks…nanti kalo udah terbit saya kabri.

    cakmoki: memang kita harus prihatin. apalagi penulis pertamanya juga seorang pengajar di salah satu universitas swasta di jogja juga. sampai hari ini pun saya tidak mendapatkan konfirmasi tentang penarikan bukunya. mungkin perlu dikirimi surat ke atasan si penulis.

    dani:saat masyarakat mulai tumbuh budaya baca, biasanya ada aja yang ambil jalan pintas.

    yusuf alam romadhon: selamat udah menerbitkan buku. moga-moga gak ada yang memplagiasi he..he..he..

  6. ovy Says:

    ass…
    ni ovy,mhsswa slh stu prguruan ngri d smg
    mngkin ovy g tau banyak soal gmn susahnya mengarang buku (bt ak yg lg bt skripsi aj udh mnta ampun aplg bt buku….mnta ilmunya dunk). tp bt org yang awam spt ak ini udh kliatan bgt gmn rsanya ktka tau milik kita di ambil org lain…pdhl niat kta baik tp msh aj ad org yg mnfaatin itu…
    bt mas jgn mnyerah ya….tetep semngat!!!!!!!
    cayooooo…

  7. ary Says:

    orang yang berani mengambil tulisan orang untuk dipublikasi alias plagiat tak perlu diberi ampun…..
    hari ini diberi ampun pasti besok diulangi lagi…
    apalagi dosen…pastilah tahu etika penulisan…. kalo ditanya bilangnya nggak tahu kalo itu melanggar etika penulisan….wah bohong besar…
    mesti dia pembual..ato kalo memang benar tdk tahu tentang etika menulis…mesti universitas yang mengangkat dia jadi dosen sdh salah…
    mahasiswa kalo nyontek aja gak lulus..dosen plagiat ya mesti dipecat…
    tuntut secara hukum dan laporkan ke institusinya

  8. anonymous Says:

    Wah seru banget nich isu atau realita ya ini. Mohon diperjelas dong data diskusinya. Misal judul buku yg telah diterbitkan atau inisial dari “penulisnya”nya. Karena terus terang saya belum ngech dengan yang dibicarakan. Siapa tau ada kasus yang sama dengan ini tapi beda orang yang dituju….
    yang berkepentingan mohon menjelaskan doang…..

  9. awan Says:

    ya lah..p anis..dishare saja nama penulis dan judul buku…
    kasihan yang sdh beli dan dipake untuk referensi.. eh ternyata buku hasil plagiat..

  10. kuanto Says:

    mas anis……bener nih, nggak apa-apa dishare aja nama plagiatornya, at least di sini, siapa tahu itu sbg lesson bagi dia, sehingga ‘menyadarkan’nya, kan niat baik utk tujuan baik. Jangan-jangan saya kenal dia ya…hehehhe..yogya kota kecil?
    Menurut saya sih, aspek finansial gak begitu penting, tapi IP kan kekayaan kita yg utama? Betul nggak?
    Salam…

  11. anisfuad Says:

    ovy: thanks atas dukungan semangatnya. saya masih tetap semangat kok. dulu, waktu pertama kali melihat buku tersebut ya sedih, sekarang sudah biasa lagi…
    ary: penulis pertamanya memang seorang dosen. tetapi menurut pengakuan yang bersangkutan, dia tidak mengetahui bahwa sebagian besar isinya, yang merupakan kontribusi dari penulis kedua, merupakan hasil copy and paste dari sumber lain. kalau urusan pecat memecat biar urusan institusi yang bersangkutan saja. saya hanya membuat kesepakatan kepada mereka berdua tentang penarikan buku tersebut.
    anonymous, awan & kuanto : dari awal saya memang tidak berniat membawa urusan ini sampai tingkat kelembagaan. pada waktu pertemuan dengan kedua penulis buku jiplakan tersebut, saya juga pernah mengancam kepada yang bersangkutan akan memasukkan nama penulis serta judul bukunya ke blog ini jika tidak menarik buku tersebut. karena bukunya sudah ditarik, janji tersebut harus saya penuhi.

  12. Bambang Rahmanto Says:

    Mas Anis Fuad dan teman-teman yang lain. Ada yang ingin saya tanyakan. , sebenarnya untuk menunjukkan bahwa suatu karya tulis itu adalah menjiplak atau plagiat apa sih kriterianya. Karena dosen saya pernah cerita, bahwa dia mendapat tuduhan menjiplak karya orang lain, hanya karena sebagian besar isinya sama. Ceritanya: dosen saya di kampus membuat buku. Dan kebetulan buku itu dijadikan buku wajib untuk mata kuliah tentang Sistem Informasi Geografis yang diajarkan dosen saya tersebut. Nah, beberapa bulan kemudian Dia mendapat teguran dari seorang dosen (kedokteran ? lupa nih??) UGM yang mengklaim bahwa buku tersebut adalah karya miliknya. Dosen saya menolak keras dan bahkan katanya akan membawa masalah tersebut ke pengadilan untuk membuktikan bahwa dosen sayalah penulisnya. Selanjutnya lagi dosen UGM tersebut telah meminta maaf ke dosen saya karena telah menuduh menjiplak. Kata dosen saya, mentang-mentang dosen UGM terus mau merasa paling pintar sendiri. Padahal dosen saya itu lulusan T. Geodesi UGM jadinya kan jago soal SIG. Mohon jawabannya Mas Anis Fuad atau rekan lain….

  13. anisfuad Says:

    mas Bambang, tinggal dibandingkan saja isinya. Kalau mau lebih teliti lagi, ya diamati secara rinci kalimat per kalimat dan paragrafnya sampai ke struktur penulisannya. Jika hal ini mau dibawa ke pengadilan saya persilakan. Saya tidak pernah meminta maaf untuk karena menuduh menjiplak. Tentang kalimat “Kata dosen saya, mentang-mentang dosen UGM terus mau merasa paling pintar sendiri. Padahal dosen saya itu lulusan T. Geodesi UGM jadinya kan jago soal SIG” , saya kira itu tuduhan yang tidak berdasar. Saya tidak pernah merasa pinter sendiri, mohon ditanyakan apa yang menyebabkan beliau mengatakan demikian. Saya tidak memungkiri bahwa beliau lulusan T Geodesi UGM jago soal SIG. Saya sendiri tidak merasa jago soal SIG, saya hanya pernah belajar tentang SIG di kesehatan. Kalau dilihat dari isi buku, itu tentang SIG di kesehatan kok. Dalam buku tersebut dibahas kasus SIG terhadap puskesmas pasca tsunami dan gempa di Aceh dan Nias. Tinggal dicek saja, yang bersangkutan pernah mengumpulkan data tersebut atau tidak.
    terima kasih komentarnya…..

  14. wsetyonugroho Says:

    rame … bukunya apa to kalo boleh tau ?
    salam kagem mas anis.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: