Standar pendidikan dokter, kompetensi dokter dan informatika kedokteran

Beberapa waktu yang lalu saya mendapatkan dokumen Standar Pendidikan Dokter dan Kompetensi Dokter dari mas dr. Yoyo Suhoyo, staf muda di Bagian Pendidikan Kedokteran UGM. Dokumen ini disusun oleh Konsil Kedokteran Indonesia (KKI). Terus terang saya belum tahu apakah dokumen ini sudah final atau masih draf. Disebutkan bahwa dokumen ini adalah amanat UU no 29 tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran pasal 27 tentang perlunya Standar Pendidikan Dokter untuk mendukung pendidikan kedokteran yang berbasis kompetensi dan sesuai dengan standar. Standar yang disusun tersebut masih memberikan keleluasaan bagi masing-masing fakultas untuk melakukan penyesuaian dan tidak dimaksudkan sebagai penyeragaman. Yang menarik, acuan umum tentang standar ini mengikuti model WFME (World Federation of Medical Education) – yang sudah dipublikasikan sejak tahun 2000. Jika, ini baru diberlakukan sekarang, ya bisa dihitung sendiri gap antara pendidikan di sini dengan di luar. Bagaimanapun juga, saya menyambut gembira adanya dokumen tersebut.

Meskipun dalam kedua dokumen tersebut tidak ada menyebut istilah “informatika kedokteran” sama sekali, tetapi ada beberapa hal yang membuat saya optimis bahwa ini akan membuka peluang cukup lebar bagi pengembangan informatika kedokteran. Dalam dokumen standar, “teknologi informasi” dituliskan sebagai sumber daya umum dan dan sumber daya pendidikan klinik. Lengkapnya, kalimat yang tertulis adalah:
“6.3.1. Institusi pendidikan kedokteran memiliki fasilitas teknologi informasi yang memadai bagi staf dan mahasiswa untuk menunjang pelaksanaan program pendidikan.
6.3.2. Institusi pendidikan kedokteran secara efektif menggunakan dan mengevaluasi teknologi informasi dan komunikasi pada program pendidikan.”

Dalam sumber daya pendidikan klinik:
“Institusi pendidikan kedokteran harus menyediakan fasilitas teknologi informasi bagi staf akademik dan mahasiswa, yaitu:
oKomputer dengan rasio minimal 1:20 bagi mahasiswa, sedangkan untuk staf akademik minimal setiap bagian 1 komputer
oTersedia jaringan intranet yang menjamin komunikasi antara pimpinan institusi pendidikan kedokteran, staf akademik dan mahasiswa
oTersedianya kepustakaan elektronik”

Tetapi kalau sebagai standar, mestinya minimal seorang dosen harus memiliki komputer sendiri. Kalau yang dimaksud 1 komputer di bagian itu untuk urusan administrasi, ya itu bukan sumber daya pendidikan klinik ya….? itu sumber daya administratif. Mungkin sebagai standar bisa ditambah lagi, akan lebih baik jika setiap dosen punya blog hua..hua..hua…hua…Semoga yang dimaksudkan dengan sumber daya pendidikan klinik juga termasuk fasilitas teknologi informasi di lingkungan rumah sakit.

Selanjutnya tentang standar kompetensi dokter. Dokumen tersebut menuliskan 7 area kompetensi dokter yaitu:
1.Komunikasi efektif
2.Keterampilan Klinis
3.Landasan Ilmiah Ilmu Kedokteran
4.Pengelolaan Masalah Kesehatan
5.Pengelolaan Informasi
6.Mawas Diri dan Pengembangan Diri
7.Etika, Moral, Medikolegal dan Profesionalisme serta Keselamatan Pasien

Setiap kompetensi inti tersebut akan memiliki terbagi ke dalam komponen kompetensi sampai dengan penjabarannya. Sekali lagi, tidak ada istilah “informatika kedokteran” di dalamnya. Tetapi, nampak jelas ada area kompetensi inti yang dapat mewakili, yaitu kompetensi ke-5 tentang pengelolaan informasi. Dalam komponen kompetensinya tertulis:
“…..
Area Pengelolaan Informasi
16. Menggunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk membantu penegakan diagnosis, pemberian terapi, tindakan pencegahan dan promosi kesehatan, serta penjagaan, dan pemantauan status kesehatan pasien
17. Memahami manfaat dan keterbatasan teknologi informasi
18. Memanfaatkan informasi kesehatan”

Ini kemudian dijabarkan sebagai berikut:
D.5.1. Kompetensi Inti
Mengakses, mengelola, menilai secara kritis kesahihan dan kemampu-terapan informasi untuk menjelaskan dan menyelesaikan masalah, atau mengambil keputusan dalam kaitan dengan pelayanan kesehatan di tingkat primer

D.5.2. Lulusan Dokter Mampu
1.Menggunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk membantu penegakan diagnosis, pemberian terapi, tindakan pencegahan dan promosi kesehatan, serta penjagaan, dan pemantauan status kesehatan pasien
• Menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (internet) dengan baik
• Menggunakan data dan bukti pengkajian ilmiah untuk menilai relevansi dan validitasnya
• Menerapkan metode riset dan statistik untuk menilai kesahihan informasi ilmiah.
• Menerapkan ketrampilan dasar pengelolaan informasi untuk menghimpun data relevan menjadi arsip pribadi
• Menerapkan keterampilan dasar dalam menilai data untuk melakukan validasi informasi ilmiah secara sistematik
• Meningkatkan kemampuan secara terus menerus dalam merangkum dan menyimpan arsip

2.Memahami manfaat dan keterbatasan teknologi informasi
• Menerapkan prinsip teori teknologi informasi dan komunikasi untuk membantu penggunaannya, dengan memperhatikan secara khusus potensi untuk berkembang dan keterbatasannya

3.Memanfaatkan informasi kesehatan
•Memasukkan dan menemukan kembali informasi dan database dalam praktik kedokteran secara efisien
•Menjawab pertanyaan yang terkait dengan praktek kedokteran dengan menganalisis arsipnya
•Membuat dan menggunakan rekam medis untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan

Sebenarnya semuanya terkait dengan informatika kedokteran to?
Bahkan, dalam area komunikasi efektif, ada juga yang terkait dengan telemedicine. Silakan disimak:
Berkomunikasi dengan sejawat
•Memberi informasi yang tepat kepada sejawat tentang kondisi pasien baik secara lisan, tertulis, atau elektronik pada saat yang diperlukan demi kepentingan pasien maupun ilmu kedokteran
•Menulis surat rujukan dan laporan penanganan pasien dengan benar, demi kepentingan pasien maupun ilmu kedokteran
•Melakukan presentasi laporan kasus secara efektif dan jelas, demi kepentingan pasien maupun ilmu kedokteran

Hanya saja, beberapa aspek penting yang terkait regulasi seperti surveilans kok malah tidak muncul (catatan: tidak ada sama sekali kata surveilans). Mungkin yang agak berkaitan adalah kalimat “Bekerja sama dengan profesi dan sektor lain dalam menyelesaikan masalah kesehatan dengan mempertimbangkan kebijakan kesehatan pemerintah, termasuk antisipasi terhadap timbulnya penyakit-penyakit baru”. Aku sih pinginnya lebih tegas, misalnya dokter harus mengetahui penyakit-penyakit yang wajib dilaporkan (notifiable disease) dan mekanisme pelaporannya he..he..he..
Membaca dokumen ini aku membayangkan bahwa masa depan dokter-dokter kita akan semakin hebat. Semoga.

14 Tanggapan to “Standar pendidikan dokter, kompetensi dokter dan informatika kedokteran”

  1. Dani Iswarahttp://daniiswara.wordpress.com/ Says:

    yaa akhirnya ada titik terang itu..[moga2 bukan black hole]..semoga makin jelas arah perkembangan informatika kesehatan/kedokteran dalam pendidikan kita..

  2. mutamakin Says:

    Mungkin dokter tidak perlu belajar notifiable disease. Seringkali diagnosa dokter lebih detil (granular) dari notifiable disease nya ICD-10. Jika dokter harus translate diagnosa ke notifiable disease jadi setback dan menambah kerjaan. Tugas translate dan pengiriman data surveilens sebaiknya diserahkan ke “vocabulary machine”.

  3. anis Says:

    mas dani: semoga mas…hanya saja perlu dikawal, disupport, dimonitor implementasinya..

    mas mutamakin: mungkin saja standarnya sudah mengacu ide “vocabulary machine”. tetapi konsep vocabularynya aja belum masuk ke dalam standar tuh…

  4. cakmokihttp://cakmoki86.wordpress.com Says:

    Biasanya UU terbit dulu, lainnya sambil jalan kan *paranoid*
    Maka makin jauhlah gap. Apalagi baca yang ini:
    Tetapi kalau sebagai standar, mestinya minimal seorang dosen harus memiliki komputer sendiri. Kalau yang dimaksud 1 komputer di bagian itu untuk urusan administrasi, ya itu bukan sumber daya pendidikan klinik ya….? itu sumber daya administratif. Mungkin sebagai standar bisa ditambah lagi, akan lebih baik jika setiap dosen punya blog hua..hua..hua…hua…
    Maaf ya, senagian saya blod …

  5. abenk Says:

    Kalau bisa, tolong donk….
    Saya butuh dokumen dr. Yoyo Suhoyo ttg Standar Pendidikan Dokter dan Kompetensi Dokter ini. Atau dimana saya bisa mencarinya. Mas Anis, kalau ada filenya kirim via email ya… abenk_doc@yahoo.co.id
    Terima kasih.

  6. papzie dupzie Says:

    blog yg sangat membantu kehidupan saya dlm skenario 2 blok 1 pbl 2007 fk unand… thanx dude!

  7. reza pahlevi Says:

    ass,
    salam kenal saya untuk semua na,
    gnma kabr na mas??????????????
    inilah standart kompetensi kedokteran yang baik.
    di man kita langsung terjun dalam praktik.
    saya sangat suka dengan kurikulum ini.
    semogha kita semua menjadi dokter yang baik n sukses
    amin………………………………………..

  8. reza pahlevi Says:

    ass,
    salam kenal saya untuk semua na,
    gnma kabr na mas??????????????
    inilah standart kompetensi kedokteran yang baik.
    di mana kita langsung terjun dalam praktik.
    saya sangat suka dengan kurikulum ini.
    semogha kita semua menjadi dokter yang baik n sukses
    amin………………………………………..
    unsiah kuala , banda aceh

  9. rayen Says:

    assalamualaikum…
    salam kenal buat semuanya…
    sbelumnya terima kasih buat mas anis fuad dengan adanya blog ini telah membantu saya dalam pbl di fk unaya modul 2 skenario 1.

    saya sangat setuju dengan pendapat mas,bahwa salah satu kendala yang dihadapi para dokter indonesia ialah komunikasi dengan pasien. seringkali pasien yang berobat ke dokter merasa tidak puas. hal ini disebabkan karena banyak dokter di indonesia yang susah untuk menarik ‘simpati dan perhatian pasien’,sehingga seringkali komunikasi yang diharapkan maksimal antara pasien dan dokter menjadi tidak maksimal dan seringkali tabu. disadari atau tidak hal ini sendiri telah membawa efek negatif bagi para dokter indonesia, yaitu berkurangnya pasien. animo sekarang yang bermunculan di masyarakat ialah berobat ke singapore atau negeri jiran lainnya lebih ‘murah dan nyaman’ ketimbang di negeri sendiri. ini merupakan salah satu akibatnya. tentunya masih banyak akibat2 lain yang tidak perlu disebutkan lagi. saya hanya berharap untuk kedepan, para dokter di indonesia lebih komunikatif dalam menangani pasien.

    Wassalam…
    rayen, fk unaya banda aceh, NAD.
    Email: Rayen_Demons@yahoo.com

  10. Teguh Susanto Says:

    assalamualaikum
    salam kenal tuk pak anis…
    memang sudah saatnya IT ‘menjajah’ didunia kesehatan/kedokteran itu juga demi perkembangan di bidang kedokteran dan termasuk IT,shingga adanya korelasi yang saling menguntungkan, dalam hal efisiensi dan ketepatan (mengurangi human error)
    untuk topik ini diharapkan rumahsakit menjadi Docter Centris yang dimana dokter diharapkan familier dan mau bekerja dengan sistem IT sehingga apa yang diharapkan oleh dokter dalam konsul dengan pasien dapat diinformasikan dengan bagian yang lain atau kata lain sistem yang terintegrasi. akan tetapi kadang-kadang dokter juga manusia yang nota bene dia bekerja selalu flexible sehingga konsep yang tadinya Dokter Centris akhirnya menjadi Hospital Centris dimana dokter hanya mendapat informasi data dari bagian lain untuk sebagai refrensi dalam konsul pasien
    mungkin cuma ini saja pendapat saya tentang informatika kedokteran
    trimakasih
    wassalamualaikum

  11. wsetyonugroho Says:

    mas anis : aku baru buat sistem terpadu untuk mahasiswa di kampus maupun di rs-rs yang tersebar. maklumlah, nang nggoku pake banyak rs untuk koassnya.
    juga buat eLearning khusus diaplikasikan ke pendidikan Koass. Sementara terkoneksi dengan 3 RS dulu dengan kampus pusat. Ini baru eksperimen terus buat fasilitas pendidikan.

  12. Tri Bowo Hasmoro Says:

    Informasi saja:
    Secara serentak per tanggal 29 April 2008, Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) telah menerbitkan seluruhnya Surat Keputusan (kalau tidak salah ada 34 ) tentang :
    1. Buku “Standar Pendidiakan Profesi Dokter Spesialis ………..”
    2. Standar Kompetensi Dokter Spesialis ………… ”
    Kedua buku tersebut dibuat oleh Kolegium Dokter Spesialis masing-masing Bidang Ilmu).
    Karena yang berhak mengeluarkan Sertifikat Kompetensi Adalah KOLEGIUM ILMU TERKAIT masing-masing.

    Berdsarkan kedua buku tersebut, Institusi Pendidikan Penyelenggara PPDS, membuat BUKU PANDUAN
    SPESIALISASI masing-masing. Jadi kedepannya bila aturan tersebut diikuti bakal tertib .

    Selanjutnya bagi yang mau ngurus daftar ulang untuk STR (regristrasi ulang, kira-kira tahun 2010 – 2011) nanti, syaratnya harus ada Surat Kompetensi dari Kolegium masing-masing.

    Untuk mendapat Surat Kompetensi ini Kolegium mengacu kepada PERHIMPUNAN Dokter Spesialis Masing-masing melalui badan P2KB nya masing-masing.
    Untuk itu para dokter spesialis harus mengisi BUKU LOG dan BORANG Penilaian DIRI. Buku ini juga sudah diselesaikan seluruhnya kalau tidak asalah per Agustus 2008.
    Masing-masing dokter spesialis sementara ini dianjurkan memiliki nilai SKP 50/tahun atau 250/5tahun.

    Rencana PB-IDI juga akan membuat web untuk masing-masing PERHIMPUNAN.

    Selamat bekerja,
    Salam Hipokrates
    Tri Bowo Hasmoro
    Sekretaris Kolegium Andrologi Indonesia

  13. Abu Syaakir Says:

    ASsalaamualaik…

    Salam kenal…salam medika…
    Mas dr. Anis, bisakah saya dikirimi file ttg Standar Pendidikan Dokter dan Kompetensi Dokter yg dterbitkan KKI.
    Jazakumullah…
    Viva medica…

  14. TRI BOWO HASMORO Says:

    Untuk standar pendidikan dan standar kompetensi bisa dilihat disitusnya KKI, kalau buku log dan borang penilaian bisa dilihat di PB-IDI on line
    Salam, Tri Bowo


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: