Aspek organisasional dalam pengembangan SIKDA

Terkait dengan proyek pengembangan SIMPUS di salah satu kabupaten di propinsi Jawa Tengah, Sabtu kemarin (17 Desember 2007) saya berkesempatan berdiskusi dengan jajaran pimpinan dinas kesehatan kabupaten tersebut. Meskipun hanya berlangsung satu jam, saya cukup senang karena nampaknya pihak dinas kesehatan memahami dan akan menindaklanjuti masukan-masukan kami. Yang melatarbelakangi pertemuan tersebut sebenarnya adalah kekhawatiran saya bahwa dinas kesehatan tidak siap menghadapi penerapan sistem informasi puskesmas. Sebelumnya, pernah diadakan sosialisasi kegiatan, baik kepada jajaran struktural dinas dan pimpinan puskesmas maupun para calon operator di puskesmas.

Kesan umum, tidak tampak adanya partisipasi aktif staf dinas kesehatan. Hanya beberapa orang tertentu saja yang mengikuti kegiatan ini. Pimpinan puskesmas pun tampak pesimis. Mereka merasa tidak memiliki staf yang dapat berperan sebagai calon operator. Beberapa pimpinan puskesmas juga memunculkan isu dana untuk pemeliharaan sistem. Sebaliknya, para calon operator malah memberikan respon yang positif. Setiap puskesmas mengirimkan 3 wakilnya untuk mengikuti pelatihan. Kuesioner pasca pelatihan menunjukkan bahwa sebagian besar peserta optimis dapat menerapkan aplikasi SIMPUS. Masih ada yang bingung dengan fitur aplikasi. Tetapi saya kira ini hal yang wajar, karena sepertiga peserta belum pernah menggunakan komputer sebelumnya. Pada kelompok yang sudah menggunakan komputer, sebagian besar memanfaatkan komputer untuk mengetik surat dan membuat laporan. Hanya sebagian kecil yang pernah membuat grafik dengan komputer.

Hal inilah yang kemudian memicu saya untuk melakukan pertemuan dengan para kasubdin. Kami mendiskusikan tentang alternatif struktur organisasi yang akan berperan dalam mengelola SIMPUS. Saat itu, ada tiga pilihan, membuat seksi baru, UPTD atau hanya membuat tim di bawah SK Kepala Dinas. Mahasiswa SIMKES juga mendiskusikan hal ini di blog mereka. Kepala dinas juga menyambut baik diskusi tentang hal tersebut. Buktinya pada pertemuan kemarin disepakati bahwa akan ada SK Kepala Dinas mengenai tim pengelola SIMPUS sebelum adanya kepastian SOTK (struktur organisasi dan tata kerja) yang baru. Dalam SK tersebut akan dijelaskan secara rinci tujuan, tugas pokok dan fungsi tim tersebut, selain nama anggota tim. Saya juga berharap tim tersebut akan bekerja dengan baik dengan tim kami yang akan memulai kerja kerasnya bulan Januari nanti. Saat ini komputer yang akan dikirimkan ke masing-masing puskesmas sudah diinstal dengan program SIMPUS. Mulai bulan Januari nanti, setiap puskesmas akan didampingi oleh tim tersebut selama 3 hari berturut-turut untuk memulai penggunaan program SIMPUS. Setiap bulan akan dijadwalkan kegiatan evaluasi di dinas kesehatan.  Kami juga akan membantu teknis manajemen teknologi di dinas kesehatan, khususnya pada awal implementasi jaringan LAN serta penggunaan database di dinas kesehatan. Selain itu, kami juga akan membantu menyusun prosedur dan standar yang terkait dengan inovasi SIMPUS.

Saya salut dengan usulan salah satu peserta diskusi agar tim yang dibentuk berdasarkan SK tersebut semoga nanti akan menjadi seksi Pengembangan Sistem Informasi Kesehatan di bawah Subdin Pelayanan Kesehatan. Penyebutan nama pengembangan sangat relevan karena sistem informasi puskesmas yang dibangun saat ini hanyalah tahapan inisiasi dalam proses pengembangan sistem informasi kesehatan daerah.

Sebelum tim terbentuk, saya memberikan masukan mengenai tanggung jawab dan tugas tim tersebut. Secara umum Seksi Pengembangan Sistem Informasi Kesehatan Daerah bertanggung jawab untuk:
-Menyusun perencanaan pengembangan, mengelola, mengendalikan dan mengevaluasi sistem informasi kesehatan
-Melakukan koordinasi kegiatan terkait dengan sistem informasi kesehatan dengan seksi lain
-Melakukan koordinasi lintas sektoral dengan badan/satuan kerja di lingkungan kab. tersebut (misal: KPDE, BPS, dll)
-Melaksanakan pembinaan sistem informasi kesehatan terhadap fasilitas kesehatan baik milik pemerintah/swasta (puskesmas, rumah sakit, dll)
-Mengelola teknologi informasi di dinas kesehatan
-Menyusun dan memelihara database yang terintegrasi
-Melakukan pengolahan dan analisis data untuk mendukung perencanaan dan pembuatan program kesehatan yang berbasis bukti (evidence based).

Seksi ini dipimpin oleh seorang Ketua Seksi yang bertanggung jawab untuk:
-Melakukan koordinasi dengan para pengelola program di dinas kesehatan untuk mengintegrasikan kegiatan-kegiatan yang terkait dengan sistem informasi kesehatan daerah.
-Merancang, melaksanakan dan mengevaluasi kegiatan sistem informasi kesehatan daerah dengan dibantu oleh bagian Teknologi Informasi dan bagian Pengolahan, Analisis dan Diseminasi Informasi Kesehatan
-Melakukan kemitraan dan kerjasama dengan pihak-pihak lain yang terlibat dalam pengembangan sistem informasi kesehatan baik secara vertikal (Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Tengah dan Departemen Kesehatan) serta organisasi lintas sektoral.

Seksi tersebut akan tersusun oleh dua bagian, yaitu bagian teknologi informasi dan pengolahan, analisis dan diseminasi informasi.

Bagian Teknologi informasi bertugas:
-Melakukan perencanan, pemanfaatan dan pengelolaan teknologi informasi
-Terus menerus mengikuti perkembangan teknologi dan memperbarui teknologi informasi
-Pemeliharaan dan pengelolaan database dinas kesehatan
-Mengidentifikasi serta meningkatkan kemampuan teknologi informasi staf dinas kesehatan dan puskesmas

Bagian Pengolahan, analisis dan diseminasi informasi memiliki tugas:
-Perencanaan pengembangan sistem informasi kesehatan daerah
-Pemeliharaan database dinas
-Pengolahan data dan hasil analisis, misalnya (dan tidak terbatas pada):
**Peta tematik
**Buletin elektronik
**Profil kesehatan
-Memberikan umpan balik kepada pengumpul data dan diseminasi kepada pihak terkait

Sebenarnya ada isu lain yaitu mengenai jabatan fungsional. Perlu dikaji lebih lanjut jika jabatan fungsional pranata komputer dapat masuk ke dalam bagian teknologi informasi sedangkan jabatan statistisi atau epidemilog pada bagian satunya lagi.
Selain itu, akan ada SK dari Kepala Dinas mengenai penanggungjawab SIMPUS di tingkat puskesmas. Di tingkat puskesmas minimal akan ada 2 staf yang menggunakan SIMPUS untuk entry pendaftaran serta entry diagnosis, tindakan dan obat. Dimungkinkan ada staf lain yang memiliki kemampuan untuk mengelola teknologi yang ada serta membuat analisis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: