SIG di kesehatan masyarakat: tidak hanya untuk P2PL saja

Seminggu yang lalu (3 Desember 2006), saya dan prof Hari Kusnanto mendapatkan undangan istimewa dari Dinkes Sulteng untuk berbicara dalam pertemuan evaluasi SP2TP dan sosialisasi GIS (geographical information system). Adalah mbak Bertin Ayu Wandira, staf Dinkes Sulteng yang juga mahasiswa SIMKES 2005, pemrakarsa acara (sekaligus MC pertemuan he..he..he..) yang ber-repot-repot mengklopkan agenda kami dengan jadwal acara tersbut. Ini adalah kali kedua saya ke Palu. Pada tahun 2003, saya bertemu dengan pak Imam Subekti (sekarang sudah di Depkes, Kuningan), pak Zainal (masih di DHS) serta beberapa teman dari kabupaten maupun dinkes propinsi sendiri. Pak Hari ternyata baru sekali ini menginjakkan kakinya di Palu.

Kami tiba di Palu sekitar jam setengah sepuluh malam menggunakan Batavia Air yang transit di Balikpapan. Mestinya bisa tiba satu jam lebih awal jika tidak ada keterlambatan keberangkatan dari Jogja. Seperti yang saya duga, malam itu kami makan malam di salah satu restoran di tepi pantai dengan menu ikan-ikanan yang khas. Ditemani pak Tris (kasubdin Bina Program), dr. Jimmy(kasie Litbang) dan mbak Ayu kami ngobrol ngalor ngidul(bahasa Indonesianya apa ya?) sampai hampir pukul 12 malam. Sesampai di hotel, saya dan pak Hari masih sempat utak-utik ppt sebelum terlelap pkl 1 dini hari.

Acara berlangsung di Bapelkes Palu. Setiba di Bapelkes, kami disambut beberapa alumni dan mahasiswa S2 IKM UGM (wah banyak juga ya…sampai gak hafal satu persatu). Kebetulan acara ini berbarengan dengan pertemuan yang diselenggarakan oleh seksi Gizi, sehingga acara pembukaannya dijadikan satu. Kadinkes Sulteng, dr. Abdullah, DHSM, MKes, dalam pidato pembukaan menyambut baik pertemuan ini sambil menekankan pentingnya menguasai informasi.

Pak Hari bicara pada sesi pertama mengenai pengertian GIS, ruang lingkup serta manfaatnya di kesehatan masyarakat. Berbagai contoh peta tematik ditampilkan untuk menjelaskan beragamnya peranan GIS yang tidak terbatas hanya untuk epidemiologi penyakit saja. Sesi berikutnya saya melanjutkan dengan sesuatu yang lebih praktis, yaitu GIS menggunakan Epimap. Mengapa saya pilih Epimap? Karena ini merupakan modul pemetaan sederhana yang merupakan bagian dari software Epi Info, yang seperti kita ketahui bersama merupakan software gratis. Saya menunjukkan kemampuan Epi Info untuk memasukkan data spasial yang berupa titik (koordinat lokasi yang diperoleh dari GPS). Selain itu Epi Info juga dapat membuat peta tematik sederhana bersumber dari file Excel. Sorenya peserta sempat mencoba menggunakan GPS (yang harganya sangat terjangkau untuk ukuran dinas kesehatan).

Dalam sesi diskusi, beragam pertanyaan muncul. Salah satu peserta menanyakan apakah GIS dapat digunakan untuk memetakan alokasi dana kesehatan serta penggunaannya di berbagai kabupaten/kota. Jawabannya tentu saja bisa. Justru GIS manfaatnya memang tidak hanya untuk pemetaan penyakit saja. Saya menangkap kesan bahwa selama ini hanya subdin yang mengurusi pemberantasan penyakit sajalah yang berkepentingan dengan GIS. Secara pribadi saya sangat salut dengan harian Kompas yang seringkali menyajikan informasi dengan peta-peta tematik. Di sisi lain, jarang sekali saya menemukan profil kesehatan kabupaten/kota maupun propinsi yang dilengkapi dengan peta. Kalaupun ada, peta tersebut hanya muncul di sampulnya saja. Membuat peta tematik pun sangat mudah dan sederhana, sehingga janganlah kita membajak software komersial hanya untuk menghasilkan peta tematik. Kecuali jika kita ingin melakukan analisis spasial yang lebih detail yang tidak dapat dilakukan dengan bantuan free GIS software (termasuk Geoda ataupun SatScan).

Sebenarnya, propinsi Sulteng memiliki potensi yang cukup besar dalam memanfaatkan GIS sebagai bagian penting dalam pengolahan informasi kesehatan. Warisan dari proyek ICDC, baik berupa GPS maupun peta spasial perlu dioptimalkan pemanfaatannya. Kota Palu bahkan sudah memiliki peta spasial yang sangat rinci. Kuncinya saya kira pada kerjasama lintas bidang. Sosialisasi mengenai pentingnya dan sederhananya membuat peta tematik saya kira perlu terus dilanjutkan. Seksi data dan informasi memegang peranan penting dalam koordinasi antar bidang. Fungsi koordinatif ini semakin penting karena saya yakin di setiap bidang/seksi selalu ada program kerja yang terkait dengan pengembangan sistem informasi kesehatan.

5 Tanggapan to “SIG di kesehatan masyarakat: tidak hanya untuk P2PL saja”

  1. cakmoki Says:

    Setuju,
    terutama pada point “koordinasi”. Kebanyakan di institusi pemerintah, koordinasi adalah barang mahal untuk direalisasikan. Suatu ketika dprd di kota kami dengan sengitnya mencela lemahnya koordinasi jajaran eksekutif (dan memang benar)… ternyata saat saya omong-2 dengan temen-2 yang ada di dprd, jangankan koordinasi lintas komisi dan lintas fraksi, antar anggota satu partai-pun saling sembunyikan informasi … hehehe … koordinasi memang mahal …
    😀

  2. Has2 Says:

    Terimakasih atas pencerahannnya, meskipun jujur aja saya gak paham apa itu SIG. Apakah ini bahasa Indonya GIS i.e. Sistem Informasi Global?

    Mirip-mirip dg telekomunikasi, kelihatannya aplikasi Simkes menuju ke convergence juga. Maksudnya bisa diakses kapan saja, dari mana saja dan oleh siapa saja, termasuk masyarakat awam seperti saya.

  3. anis Says:

    cakmoki:koordinasi memang mahal, tetapi lebih mahal lagi jika tidak terkoordinasi.

    has2: SIG=sistem informasi geografis, sistem informasi yang memadukan data tabular dengan data spasial untuk mendukung pengambilan keputusan. sistem dan manajemen informasi kesehatan memang merupakan bidang multidisiplin, sehingga harus dapat mengenal dan terbuka terhadap masukan dari berbagai profesional yang terlibat di dalamnya.

  4. cakmoki Says:

    Itulah maksud saya…
    Di tingkat pelaksana tk II aja ada kecenderungan “ego-subdin”, ini curhat temen-2 di kota kami lho …
    Kalo ada tamu ahli, woww rukun banget (keliatannya) … lha di tingkat ujung tombak wah seru deh … suatu saat akan nulis dinamika selama belasan tahun melanglang di garda depan kesehatan … tapi saya selalu optimis bisa maju walau luambat.
    🙂

  5. anis Says:

    cak moki: saya sedang merencanakan mengundang pak Hatmoko utk berbagi pengalaman di depan mhs S2 SIMKES. Nanti, kalau jadwal sudah pasti saya kabari nggih. Moga-moga kersa rawuh di Jogja…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: