Bangsa dengan budaya (tidak) selamat?

Akhirnya, pipa gas Pertamina meledak juga. Hal ini sudah dikhawatirkan sejak awal bencana lumpur panas Lapindo. Yang pasti, sudah 7 orang dipastikan tewas, belasan lainnya luka-luka. Perusahaan pengguna gas sudah harus bersiap-siap kehilangan pasokan gas. Pertamina sedang menghitung kerugian, sambil berharap akan dibayar oleh penanggungjawab banjir lumpur di lahan Lapindo.

Terlepas dari polemik penanggung jawab bencana lumpur panas Lapindo, yang menarik untuk dikaji adalah apakah kita (baca: bangsa Indonesia) memiliki budaya dan manajemen yang baik untuk mengelola keselamatan (safety)? Ini untuk menjelaskan mengapa kasus ketidakselamatan terus berjatuhan dari hari ke hari.

Kapan saja, dimana saja
Konon setiap tahun terdapat 30.000 nyawa meregang di jalan raya. Mulai dari pengendara motor roda dua, kendaraan pribadi, angkutan umum, kereta api, pesawat terbang sampai ke kapal. Penyebabnya bisa bermacam-macam. Mulai dari mengantuk, rambu lalu lintas yang tidak jelas, kendaraan tidak laik jalan, gengsi kebut-kebutan sampai ke mengejar setoran (dari metro mini sampai pesawat terbang).

Keselamatan manusia dapat berakhir kapan saja. Di saat liburan, maksud hati menikmati keindahan alam, jembatan gantung malah runtuh. Ingin menikmati pantai, malah terseret arus. Mencoba rafting, kapal karet terbalik. Di tempat para cendik cendekia, impian menjadi sarjana bisa terhambat gara-gara atap sekolah jebol.

Organisasi pelayanan kesehatan, yang semestinya menjunjung tinggi keselamatan, pun belum tentu aman. Di Indonesia belum ada survei berskala nasional menghitung ketidakselamatan pasien di rumah sakit. Di Amerika Serikat, setiap tahun diperkirakan ada 44.000 sampai 98.000 pasien tidak selamat karena medical error.

Indonesia secara umum adalah daerah rawan gempa, tetapi sebagian besar bangunan dibuat dengan konstruksinya tidak tahan terhadap gempa.

Sistem dan budaya
Ketidakselamatan itu konon merupakan kesalahan sistem, bukan kesalahan individu. Beberapa petuah menyarankan jangan menyalahkan. Korban yang tewas, cacat, luka-luka, maupun petugas yang dimutasi dan dipecat dari pekerjaan, atau bahkan dihukum penjara sampai dengan bunuh diri semuanya adalah korban dari manajemen keselamatan yang tidak becus. Salah satu kuncinya adalah dengan memperbaiki sistem yang dapat menapis kemungkinan munculnya insiden.

Sistem yang baik, konon mampu mendeteksi sebelum kecelakaan terjadi (near miss). Sistem yang baik katanya harus bersifat adaptif dan mudah menyesuaikan dengan lingkungan. Para ahli yang terlibat dalam tim penanggulangan sudah memperkirakan bahwa pipa gas Pertamina berisiko terkena dampak peningkatan suhu. Manajemen risiko mungkin sudah dilakukan, tetapi barangkali kurang cepat, kurang tepat atau (sialnya) tidak sempat.

Aspek budaya mungkin bisa menjelaskan mengapa bangsa kita tidak peduli dengan keselamatan. Salah satu suporter klub sepakbola terkenal dari Jawa Timur disebut sebagai Bonek, karena bisa nekat berbuat apa saja. Ada juga pasukan berani mati yang tidak hanya berani mati untuk membela kemerdekaan tetapi juga membela calon presiden.

Jangan-jangan awal dari semuanya adalah ketidakberdayaan bangsa Indonesia dalam berkehidupan. Di Asia Tenggara, laju kematian ibu melahirkan maupun kematian bayi paling tinggi. Kejadian tuberkulosis nomer tiga paling banyak di dunia setelah Cina dan India. Tidak terhitung lagi (karena hitungannya berbeda-beda) berapa banyak masyarakat kita yang miskin, tidak memiliki pekerjaan, tidak berpendidikan dan tidak kuat membayar pelayanan kesehatan. Lelah dengan ruwetnya persoalan hidup, isu keselamatan (di dunia) barangkali bukan prioritas. Namun, tidak berarti mereka yang lebih sejahtera juga memiliki budaya selamat. Meskipun sudah ada tulisan di ruang tunggu pesawat untuk tidak mengaktifkan handphone, tetap saja masih ada penumpang yang asyik bertelpon ria ketika sudah di pesawat.

Budaya keselamatan
Menteri Kesehatan pernah mencanangkan gerakan keselamatan pasien. Menteri Perhubungan juga selalu menekankan pentingnya keselamatan pemudik setiap lebaran. Menteri Agama juga concern dengan keselamatan para jemaah haji. Jika demikian, keselamatan mestinya menjadi kepentingan bersama. Tetapi apakah ini sudah menjadi nilai, kepercayaan, keyakinan bangsa kita?

Budaya keselamatan (safety culture) memang merupakan istilah baru, yang menjadi populer semenjak kasus Chernoby tahun 1986. Ada berbagai definisi, tetapi pada intinya ini berkaitan dengan konsep yang dimiliki oleh suatu kelompok tentang nilai-nilai bersama (shared values) antar anggota kelompok/organisasi yang tidak muncul sesaat (instan) tetapi sudah mengendap melalui proses yang memerlukan waktu. Budaya ini juga berkait dengan kehendak yang kuat untuk belajar dari setiap kesalahan, insiden maupun kecelakaan. Kontribusi dari setiap individu yang menerapkan budaya ini terkait dengan sistem penghargaan (reward) dan kinerja kelompok atau organisasinya.

Mungkin kita perlu mengidentifikasi mengapa ada organisasi atau kelompok yang berhasil menerapkan budaya keselamatan di Indonesia. Praktek terbaik itulah yang perlu dibagi bersama. Kalau perlu mendapatkan penghargaan. Sehingga tidak perlu membuat Dewan Keselamatan Nasional atau Undang Undang Keselamatan Nasional.

Kita sudah memiliki undang-undang lalu lintas yang mewajibkan pengendara motor menggunakan helm. Tetapi, pada awalnya didemo habis-habisan. Saat ini sudah lebih baik. Tetapi jika helmnya belum aman, siapa yang peduli? Jangan-jangan penggunanya sendiripun juga tidak peduli.

Gerakan keselamatan kita juga masih diskriminatif. Saat mengunjungi wilayah Tanah Karo pasca munculnya kluster kasus flu burung, beberapa pejabat menggunakan masker dan baju khusus. Tetapi bawahannya tidak, apalagi masyarakat setempat. Alih-alih mempromosikan keselamatan, dampratan dan caci makilah yang muncul.

Sehingga, salah seorang teman, meskipun setuju dengan pemberdayaan teknologi nuklir untuk kesejahteraan manusia, menolak keras ide pembangunan PLTN. Katanya, selama tidak memiliki budaya yang menjunjung tinggi keselamatan dan didukung dengan manajemen keselamatan yang baik, bisa-bisa tidak selamatlah seluruh bangsa ini.

2 Tanggapan to “Bangsa dengan budaya (tidak) selamat?”

  1. Dani Iswara Says:

    merokok termasuk budaya [tidak] selamat ngga ya..

    termasuk [tetap] merokok pdhl tau di sebelahnya ada bayi..

  2. anis Says:

    wah iya itu… makanya, kalau saya pas di rumah (sendiri dan mertua) paling susah melihat mereka2 pada merokok.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: