Kontroversi teknologi informasi untuk mendukung gerakan keselamatan pasien (alias patient safety informatics jilid dua)

Pada posting sebelumnya, saya bercerita mengenai success story Wan Fang Hospital dalam menerapkan gerakan keselamatan pasien dengan memanfaatkan teknologi informasi. Dengan diterapkannya CPOE(computerized physician order entry) yang dilengkapi dengan sistem pendukung keputusan, berbagai medical error dapat dicegah. Demikian juga, sistem pencatatan dan pelaporan error elektronik telah dirancang untuk mengidentifikasi dan menganalisis error yang terjadi secara cepat.

Akan tetapi, sebagian besar rumah sakit di Indonesia berada dalam keadaan yang 180 derajat berbeda dengan Wan Fang Hospital. Sehingga, bisa saja ada rumah sakit Indonesia yang sudah menerapkan paperless, wireless dan filmless, tetapi maknanya lain. Paperless untuk rekam medis kertas yang tidak lengkap dan isinya acak-acakan, wireless yang dapat diartikan dengan tidak ada kabel jaringan sama sekali (bukan nir kabel) dan filmless untuk rumah sakit dengan radiologi yang rusak (tidak dapat mencetak film). Itu semua berkaitan dengan ketersediaan infrastruktur serta sumber daya keuangan. Beberapa waktu yang lalu saya mampir ke rumah sakit pendidikan. Saya cukup gembira karena menurut salah satu direkturnya mereka juga akan menerapkan radiologi digital serta sistem informasi laboratorium (laboratory information systems). Artinya, setelah menerapkan sistem penagihan (billing system), saat ini mereka sudah beranjak ke sistem-sistem lain yang lebih fungsional dan beranjak ke arah implementasi klinis. Akan tetapi, saya masih belum melihat sosok clinical leadership, yang dalam berbagai literatur mengenai keberhasilan informatika klinis merupakan salah satu kunci sukses paling penting. Meskipun sempat berdiskusi mengenai aspek strategi, saya juga meragukan apakah mereka sudah mengembangkan perencanaan sistem informasi strategik untuk menerapkan rekam medis elektronik. Hal tersebut merupakan catatan penting karena implementasi teknologi informasi juga bisa menjadi penyebab medical error itu sendiri.

Salah satu publikasi yang kontroversial mengenai hal tersebut diterbitkan di jurnal Pediatrics Vol. 116 No. 6 Desember 2005, halaman 1506-1512 (jurnal tersebut dapat diakses di sini). Dalam penelitian yang dilakukan di Children’s Hospital of Pittsburgh (CHP)oleh Han YY dkk, ditemukan adanya peningkatan mortalitas pasien yang secara koinsidental terjadi setelah implementasi CPOE (2,8% menjadi 6,57%). Laporan tersebut cukup menghebohkan karena Upperman dkk* sebelumnya melaporkan adanya penurunan kejadian adverse drug event (ADE) yang signifikan setelah penerapan CPOE. Apalagi rumah sakit tersebut menyandang predikat sebagai rumah sakit anak pertama di AS yang menerapkan CPOE 100% menggunakan software komersial dari Cerner. Penelitian tersebut tentu saja merupakan tamparan yang manis bagi mereka yang gencar mempopulerkan teknologi informasi di rumah sakit.

Enrico Coiera dkk, dalam tulisannya yang berjudul The safety and quality of decision support systems yang diterbitkan di IMIA Yearbook 2006 menuliskan bahwa sistem pendukung keputusan yang dirancang, diterapkan atau digunakan secara sembrono malah akan menyebabkan bahaya. Berbagai penerapan sistem peresepan elektronik komersial yang gagal mendeteksi interaksi antar obat menimbulkan pertanyaan bagaimana mekanisme terbaik yang dapat menjamin mutu suatu sistem rekam medis elektronik. Keefektifan sistem pendukung keputusan, termasuk berbagai perangkat teknologi informasi di kesehatan, tidak bisa dinilai berdasarkan kegunaan dan kinerja softwarenya saja. Namun harus memperhatikan interaksi kognitif dan sosioteknis yang kompleks. Memahami konteks ini akan menghasilkan perangkat lunak yang tidak hanya “aman” secara intrinsik tetapi juga “aman” ketika digunakan oleh para klinisi yang sibuk dan serba terbatas. Sehingga, dengan semakin banyaknya perangkat rekam medis komersial beredar di AS, sampai-sampai mereka memiliki lembaga dan mekanisme untuk melakukan sertifikasi software tersebut.

*)Upperman JS, Staley P, Friend K, et al. The impact of hospitalwide
computerized physician order entry on medical errors in a pediatric
hospital. J Pediar Surg. 2005;40:57–59

3 Tanggapan to “Kontroversi teknologi informasi untuk mendukung gerakan keselamatan pasien (alias patient safety informatics jilid dua)”

  1. Dani Iswara Says:

    dg TI, beban dokter berkurang, plg ngga ada faktor lain yg bisa disalahin..😀

    jadi, manusianya tetap memegang peranan penting pak ya..

  2. anis Says:

    TI, kalau tidak didesain dengan baik, juga dapat menyebabkan medical error. Makanya harus kita lihat aspek sosial dan teknisnya (sosioteknis)

  3. mulyoto adhi Says:

    kasus prita adalah salah satu contoh rancunya aplikasi hukum


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: