Kontribusi sistem informasi terhadap informatika kedokteran

Posting kali ini tentu tidak bertujuan untuk membuat jarak antara sistem informasi dengan informatika kedokteran. Bukan pula untuk menunjukkan bahwa bidang yang satu lebih unggul dibanding lainnya. Saya tertarik menulis ini setelah membaca artikel in press di Int J of Medical Informatics Juni 2006 yang berjudul Expanding multi-disciplinary aproaches to healthcare information technologies: What does information systems offer medical informatics?, tulisan Chiasson, Reddy M, Kaplan B, Davidson E. Berdasarkan track record salah satu penulisnya (Bonnie Kaplan), kita bisa melihat bahwa tulisan ini akan sangat diwarnai pendekatan sosioteknis.

Dalam artikel tersebut, penulisnya berargumen bahwa kedua bidang tersebut memiliki beberapa karakteristik yang tidak sama pada beberapa dimensi yaitu fokus penelitian, teori tentang artefak teknologi informasi, metode penelitian, latar belakang peneliti, disiplin utama, basis institusi serta sumber dana. Penelitian IK terfokus pada lingkup klinis pelayanan kesehatan sedangkan SI pada beragam industri komersial dan manufaktur. Artefak teknologi informasi merupakan interest utama meskipun menggunakan proxy seperti perubahan perilaku dokter dalam odering kegiatan klinik di RS atau jumlah kesalahan medikasi. Dalam SI, bukan artefak IT-nya yang penting tetapi outcome dan proxynya seperti produktifitas dan kepuasan. Metode penelitiannya pun berbeda. IK lebih banyak kuantitatif dan eksperimental (meskipun menemukan dan melakukan RCT dalam IK sangat sulit). Metode penelitian untuk SI lebih beragam, mulai dari laboratorium, survey, penelitian di lapangan baik kualitatif maupun kuantitatif meskipun masih didominasi oleh kuantitatif.

Dari latar belakang peneltian, IK lebih didominasi oleh orang kesehatan, meskipun sebenarnya campuran antara dokter, perawat maupun Ph.D sedang dalam SI sebagian besar adalah Ph.D. Akan tetapi basis keilmuan IK adalah ilmu komputer dan kedokteran (pendapat ini akan berbeda dengan pengertian secara umum IK yang merupakan bidang lintas disiplin sampai dengan ilmu psikologi segala, lihat di wikipedia mengenai informatika kedokteran atau di situs Agus Mutamakin). Dalam SI, berbagai keilmuan melatarbelakangi ide-ide penelitian mulai dari manajemen operasi, perilaku organisasi, teori sistem sampai dengan ilmu komputer itu sendiri. Hal ini tidak lepas dari basis institusi akademiknya, IK berasal dari fakultas kedokteran sedangkan SI berasal dari sekolah bisnis. Secara umum (menurut sang peneliti) sumber dana penelitian IK lebih didominasi oleh pemerintah sedangkan SI berasal dari dunia bisnis.

Yang menarik, penulis artikel tersebut menyatakan bahwa dimana-mana sistem informasi merupakan artefak yang sama, tetapi dengan pengguna yang berbeda, diterapkan lokasi yang bervariasi yang memiliki karakteristik, organisasi yang tidak sama. Sehingga riset informatika kedokteran perlu diperkaya dengan berbagai pendekatan sistem informasi yang memiliki kelebihan dan variasi khususnya berkaitan dengan isyu keberhasilan dan kegagalan penerapan artefak tersebut di lingkup organisasi pelayanan kesehatan. Sehingga, tulisan tersebut terkesan mengungkapkan “kelebihan” SI terhadap IK. Padahal jika dibahas dari sudut IK, eksplorasi yang lebih mendalam mungkin akan memperkaya teorisasi mengenai SI maupun ilmu informatika secara umum. Sehingga, bukan tidak mungkin akan terekspos temuan informatika kedokteran yang bisa mengikuti jejak MYCIN sebagai salah satu contoh artefak yang paling penting dan hampir selalu disebut dalam teori mengenai sistem intelijens.

Selanjutya diuraikan beberapa kontribusi sistem informasi untuk informatika kedokteran, misalnya:
Mediasi penggunaan teknologi. Ini berkaitan dengan proses organisasi yang mempengaruhi adopsi teknologi informasi kedokteran serta asimilasinya ke dalam praktek kedokteran. Teknologi informasi kedokteran harus diadopsi dulu baru kemudian digunakan. Setelah digunakan pun ada proses asimilasi yang menentukan apakah akan ada perubahan terhadap penggunaan fitur-fitur yang ada dalam aplikasi tersebut. Secara umum, kendala dalam adopsi adalah biaya, tidak adanya insentif keuangan serta aplikasinya itu sendiri yang masih imatur. Akan tetapi kesenjangan antara adopsi hingga ke penggunaannya belum banyak diketahui. Salah satu peneliti mengungkapkan pentingnya peranan staf klinik yang mendedikasikan dirinya ke dalam proyek untuk mempersempit kesejangan asimilasi. Temuan dari topik ini memang akan berimplikasi baik baik dari sisi policy maupun praktis dalam pelayanan kesehatan.
Tugas kolaboratif. Dunia kedokteran pada dasarnya memerlukan koordinasi dan kerjasama antar berbagai kelompok profesional agar dapat memberikan pelayanan kesehatan yang efektif. Selama ini, penelitian informatika kedokteran lebih banyak tercurah kepada pengembangan, penggunaan dan evaluasi sistem informasi pada pengguna individual atau kelompok profesional tertentu saja. Penelitian sistem informasi yang lebih luas dengan melibatkan aspek kolaborasi, kerja antar kelompok profesional dan konteks pekerjaan akan menjadikan kita lebih memahami mengapa dan bagaimana penggunaan teknologi informasi kedokteran di luar (beyond) pengguna individu.
Komunikasi dan interaksi.Selain tugas kolaboratif, komponen penting yang terkait adalah komunikasi antar anggota dalam suatu tim. Yates dan Orlikowski merumuskan konsep genre komunikasi organisasional sebagai lensa untuk mengamati dampak perubahan media terhadap komunikasi dan mengarahkan desain teknologi informasi yang memfasilitasi komunikasi dalam organisasi. Menurut mereka, setiap tindakan komunikasi merupakan respon terhadap situasi yang terjadi. Situasi atau kebutuhan sosial meliputi riwayat dan praktek yang sudah berlangsung, hubungan relasional serta media komunikasi di organisasi (tatap muka, tertulis atau pertukaran elektronik). Perubahan pada satu aspek akan mempengaruhi lainnya. Sehingga, jika rumah sakit menerapkan teknologi rekam medis berbasis komputer (dari menggunakan kertas ke elektronik) tidak hanya mengakibatkan perubahan pada praktek penggunaan tulisan tangan tetapi juga menimbulkan ambiguitas dan menurunkan fleksibilitas komunikasi. Oleh karena itu, komunikasi antar personal dan antar departemen akan memperkaya informatika kedokteran yang sebelumnya lebih banyak melihat aspek interaksi pengguna individual dengan komputer.
Penelitian interpretif. Penelitian sistem informasi lebih banyak dilatarbelakangi oleh konsep dan teori antropologi, sosiologi dan kemanusiaan. Penelitian lapangan yang mendalam serta berbagai metode penelitian interpretif semakin diakui legitimasi dan manfaatnya dalam bidang sistem informasi. Teori difusi inovasi dari Rogers termasuk salah satu teori yang banyak dikaji berkaitan dengan konsep difusi inovasi. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, para peneliti diharapkan:
-memiliki pemahaman bagaimaan pengguna mempersepsikan dan mengevaluasi sistem serta makna dari sistem tersebut untuk mereka
-memahami pengaruh konteks sosial dan organisasional terhadap penggunaan sistem
-menginvestigasi proses kausal
-dapat memberikan evaluasi formatif -evaluasi yang ditujukan untuk meningkatkan program, tidak sebagai kajian semata
-bisa meningkatkan utilisasi dari hasil evaluasi
-Action research. Didefinisikan sebagai “an inquiry into how human beings design and implement action in relation to one another” tujuan Action Research adalah untuk mengobservasi dan menciptakan perubahan organisasi. Untuk mencapai tujuan tersebut, AR memiliki metode dan prinsip mengenai aksi dan pembuatan pengetahuan. Prinsip tersebut meliputi: 1)memfokuskan pada pengetahuan dan outcome dari aksi, 2)mengkaji fenomena secara alamaiah untuk mengungkapkan kompleksitas dan kekayaan, 3)menerjemahkan dan mengkritik praktek individu/organisasi, 4)memperkaya penelitia, pengembangan dan pengalaman pengguna dalam menciptakan pengetahuan, 5) menggunakan “sudut pandang proses” dalam penelitian yang memerlukan pengumpulan data yang terus menerus dan terinci dalam periode yang cukup lama. Sebagaimana penelitian interpretif, penggunaan AR akan memperyaka informatika kedokteran khususnya dalam hal partisipasi peneliti dan para partisipan dalam perancangan sistem informasi untuk menghasilkan sudut pandang yang orisinil dalam bentuk observasi, refleksi serta aksi.
-Model. Sistem informasi telah lama menggunakan berbagai teknik modeling untuk mengarahkan pengembangan teori, penggunaannya serta generalisasi terhadap hasil penelitian. Model dapat menggunakan deskripsi diagram yang menunjukkan variabel dependen, independen dan mediasi yang berasal dari teori. Berdasarkan model tersebut, dihasilkan formula dan analisis statistik untuk menilai sejauh mana model teoritis sesuai dengan data yang dikumpulkan dalam penelitian. Berbagai model yang populer misalnya adalah Technology Acceptance Model (TAM), Balanced Scorecard dari Kaplan dan Norton, model kesuksesan sistem informasi menurut DeLone-McLean, model Donabedian tentang evaluasi struktur-proses-outcome, model Fineberg tentang kemanjuran teknologi diagnostik klinik dan lain sebagainya.

Apapun perbedaannya, hikmahnya adalah kolaborasi antara kedua disiplin tersebut. Di Indonesia, dalam konteks pendidikan S2, FKM UI menggunakan nama informatika kesehatan. FKM Undip nampaknya juga akan demikian, meskipun namanya masih menggunakan SIMKES. Sedangkan di UGM nampaknya masih tetap akan menggunakan sistem informasi manajemen kesehatan. Yang berminat artikel lengkapnya, dapat japri ke saya.

Satu Tanggapan to “Kontribusi sistem informasi terhadap informatika kedokteran”

  1. mutamakin Says:

    Blog based journal reading … keren. Semoga bisa jadi kegiatan berkelanjutan.

    Saya sudah baca naskah lengkap nya. Artikel “fresh from the oven”. Saat saya baca statusnya masih “in press” (sedang dicetak). Jumlah referensi yang di “cite” juga lumayan banyak, 84. Sebuah artikel yang menarik untuk direview.

    Perkenankan saya menyampaikan kritik atas artikel “Expanding multi-disciplinary aproaches to healthcare information technologies: What does information systems offer medical informatics?”

    1. Kaplan dkk menilai “research focus” information system (SI) terbatas pada commercial & manufacturing industries (Table 1). Padahal research information system telah dikerjakan di banyak bidang (http://www-935.ibm.com/services/us/index.wss/gen_industry), seperti education, energy, government, telecommunication, dll, dan semuanya focus. Latar belakang salahsatu penulis, Chiasson M dari Management School mungkin mempengaruhi pendapat tersebut.

    NB: Akan lebih baik jika tabel diikutsertakan di blog untuk memudahkan pemahaman

    2. Ketika artefak informatika kedokteran (IK) mulai berinteraksi dengan manusia dan memberi dampak pada organisasi, maka berkembanglah riset sistem informasi kesehatan (SIK). Telah lama SIK menggunakan “research methods” kualitatif seperti SI kebanyakan. Kaplan dkk seolah2 menilai (IK) masih dalam awal perkembangan (dekade 50, 60 an), dimana IK masih didominasi riset2 yang belum/minimal melibatkan interaksi dengan manusia, eg embedded system & komunikasi antar komputer (middleware).

    3. SI sebenarnya mengadopsi kontribusi2 (1. mediasi penggunaan teknologi, 2. tugas kolaboratif, 3. komunikasi dan interaksi, 4. penelitian interpretif, 5. action research dari bidang keilmuan lain. Saya menilai kontribusi2 tersebut sebenarnya lebih tepat dirujuk langsung dari akar keilmuannya, seperti antropologi, sosiologi, psikologi, organisasi, komunikasi, dll.

    Agus Mutamakin


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: