Politik sistem informasi rumah sakit

Saya kira semua orang setuju bahwa sistem informasi rumah sakit berbasis komputer (baca: aplikasinya) merupakan salah satu alat manajemen penting agar rumah sakit dapat memberikan pelayanan kesehatan yang efektif, efisien serta menjunjung tinggi keselamatan pasien. Tetapi, menerapkannya secara mulus di rumah sakit bukan hal yang mudah. Berbagai penelitian telah mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan implementasi SIRS.

Lingkungan eksternal rumah sakit, seperti pemerintah daerah yang menekan RSUD sebagai salah satu sumber pendapatan daerah, harus diperhatikan. Kesiapan organisasi rumah sakit itu sendiri, baik dari sisi kepemimpinan (leadership), hubungan antar berbagai subsistem di rumah sakit serta manajemen yang berjalan dengan baik merupakan prakondisi penting. Belum lagi aspek manusianya. Sehingga, pengembangan sistem informasi rumah sakit berbasis komputer akan memiliki tingkat keberhasilan yang lebih tinggi jika berada di lingkungan yang ideal, yaitu lingkungan eksternal kondusif, organisasi rumah sakit siap serta manusianya pun bermotivasi tinggi dan mau berubah.

Adalah hal yang sulit untuk mendapatkan rumah sakit yang ideal seperti itu. Di sisi lain, pengembangan sistem informasi rumah sakit hampir tidak mungkin dilakukan oleh pihak rumah sakit sendiri. Mereka harus bekerja sama dengan pihak lain. Ada konsultan yang memberikan saran kepada direktur tentang kondisi, arah serta strategi pengembangannya. Selain itu, rumah sakit harus menggandeng pihak lain, biasanya vendor yang akan mengembangkan perangkat lunak. Vendor pun bisa lebih dari satu, karena subsistem informasi rumah sakit juga bervariasi, sehingga ada vendor yang mengkhususkan untuk produk khusus seperti sistem informasi laboratorium ataupun sistem informasi radiologi. Tidak jarang terjadi bahwa vendor dipersalahkan karena “mengunci” perangkat lunak. Pada saat yang sama, rumah sakit pun tidak memberdayakan diri mereka sendiri agar memiliki sumber daya yang dapat “membuka kunci” perangkat lunak. “Membuka kunci” perangkat lunak janganlah dipahami sebagai pembongkaran kode, tetapi merupakan upaya lebih luas untuk memperkuat struktur dan sumber daya rumah sakit agar lebih memahami teknologi informasi.

Soal kunci mengunci, pendekatan open source dijadikan sebagai salah satu alternatif pengembangan perangkat lunak yang lebih terbuka. Rumah sakit diharapkan dapat memodifikasi dan mengembangkan source code yang ada sesuai dengan perkembangan rumah sakit. Akan tetapi kemampuan untuk memodifikasi dan mengembangkan dari source code yang ada hampir tidak mungkin dilakukan oleh sebagian besar rumah sakit di Indonesia jika SDMnya masih seperti sekarang ini. Diasumsikan bahwa jika perangkat lunak tersedia sebagai open source, akan banyak rumah sakit daerah yang memiliki keuangan terbatas mampu mengadopsinya.

Vendor pun ada yang mengkhususkan pada perangkat keras termasuk jaringan. Kemungkinan masih ada pihak lain yang berperan dalam pengembangan, misalnya untuk pelatihan. Jangan lupa, rumah sakitpun harus mempersiapkan struktur untuk mengelola pengembangan ini. Tidak hanya sebagai tim pengadaan sistem informasi rumah sakit,tetapi tim yang bertanggung jawab secara penuh merumuskan arah pengembangan sistem informasi rumah sakit. Kejujuran tim pengadaan sistem informasi rumah sakit bisa berakhir menjadi mimpi buruk karena kepentingan pihak tertentu yang terlibat pada waktu proses tender.

Melihat kompleksitas tersebut, menjadi penting memahami pengembangan sistem informasi rumah sakit sebagai suatu kajian politis. Munculnya berbagai kepentingan dari berbagai kelompok menambah rumit proses pengembangan. Apalagi jika harus mempertimbangkan pihak lain yang juga berkepentingan seperti pihak asuransi kesehatan maupun warisan dari sistem informasi lama. Mau tidak mau akan ada pihak yang harus mengalah, mengubah cara kerja maupun kehilangan posisi. Di salah satu rumah sakit, ada staf yang mengajukan pindah kerja ke bagian laundry daripada harus menggunakan komputer untuk mengganti cara kerja secara manual yang sudah dilakukan selama berpuluh-puluh tahun. Resistensi yang terbuka semacam ini justru lebih menguntungkan karena diungkapkan secara terbuka, daripada resistensi yang dipendam (overt) tetapi diekspresikan dalam bentuk sabotase.

Motivasi pengembangan sistem informasi rumah sakit terkadang merupakan bagian dari agenda besar berskala nasional. Hal ini sangat jelas terlihat sebagai upaya secara top down dari departemen kesehatan untuk melakukan standarisasi pelaporan indikator kinerja rumah sakit. Kalaupun dilihat sebagai bagian dari penerapan standar, pengembangan sistem informasi rumah sakit seharusnya juga memperhatikan kebebasan dan fleksibilitas rumah sakit untuk memilih jenis perangkat lunak, vendor, maupun metode pengembangannya. Namun, hal tersebut menjadi lebih sulit jika rumah sakit hanya dianggap sebagai pihak yang menerima dana dari pusat dan pengembangan sistem informasi rumah sakit merupakan bagian tidak terpisahkan dari syarat turunnya anggaran.

Hal yang hampir serupa terjadi pada rumah sakit yang mendapatkan bantuan dari lembaga donor. Merasa sebagai pihak yang memiliki uang, mereka seakan-akan adalah rumah sakit yang berhak menentukan pengembangan sistem informasi sesuai dengan anggaran yang tersedia tanpa peduli apakah rumah sakit tersebut mampu menerapkan. Mereka berperan tak beda dengan sinterklas yang menawarkan sejumlah uang kepada para pengembang. Sayangnya, terkadang untuk memenuhi target kinerja lembaga donor teresbut, jadwal yang tersedia bisa jadi tidak sepadan dengan waktu yang harus diperlukan untuk pengembangan aplikasi. Pada titik inilah, bagi para konsultan dan pengembang, melihat kemampuan diri sendiri merupakan hal yang lebih penting daripada sekedar melihat peluang (dan uang).

Akhirnya, pertanyaan besarnya adalah bagaimana para konsultan, pengembang, donor agency dan manajemen rumah sakit dapat bermain cantik diantara berbagai kepentingan untuk membangun sistem informasi manajemen rumah sakit.

16 Tanggapan to “Politik sistem informasi rumah sakit”

  1. Dani Iswara Says:

    seandainya proyek2 SIM RS mampu dikembangkan mandiri dan berkelanjutan..motivasi internal yg tinggi krn menyadari kebutuhan dan manfaatnya..teknologi informasi kesehatan akan lebih berkembang menunjang proses bisnis yg ada..mendukung produk2 RS..menghadapi tantangan standardisasi, integrasi, efisiensi..mencapai layanan kesehatan yg lbh prima dan bermutu bagi konsumennya

    • Opa Says:

      Pokok permasalahannya kenapa SIMRS tdk ada yang dpt memuaskan para manajemen RS karena “keinginan” manajemen RS dipuaskan oleh Vendor..seharusnya “KEBUTUHAN RS” yang dipenuhi..tetapi ironisnya hampir semua manajemen RS tdk mengetahui apa yang mereka butuhkan…, kalau mau jujur yang dibutuhkan oleh RS maupun Pasien adalah “PELAYANAN YANG BERMUTU DAN PENGENDALIAN PEMBIAYAAN”…nah..adakah aplikasi vendor yang bisa mendukung kearah “Kebutuhan” tersebut..salah-satu contoh..hampir semua aplikasi vendor membuat modul registrasi…untuk mengatur orang antri..(mana ada orang sakit mau diatur antri), modul pelayanan untuk mencatat, mengolah dan informasi/reporting data.., tanpa aplikasi bisnis RS juga bisa jalan…jadi..?!! seharusnya aplikasi dirancang agar pasien bisa berobat tanpa antri tetapi teregistrasi dan.. pasien keRS tdk perlu khawatir tentang biaya karena mereka sudah tau berapa yang harus dibayar..dan manajemen RS ongkang2 kaki sambil memikirkan rencana pengembangan RS.. dpl..seyogyanya SIMRS mendukung angan2(Visi/Misi,pencitraan) manajemen RS untuk mencapai tujuan..ibrat vendor itu harusnya sebagai tukang jahit baju sekaligus sebagai perancang..jadi ..jangan Cuma menerima pesanan..tetapi dapat memberikan solusi permasalahan

      • Rico Says:

        mas… kalau ngak mau antri ya masuk ke rumah sakit nya sendiri aja😀

        Inilah mental budaya masyarakat Indonesia, disuruh teratur biar lebih cepat pelayanannya kok malah protes, lah trus mau desak-desakan di loket registrasi. Semua yang datang ke rumah sakit pasti lagi ada masalah dengan kesehatannya mas! Jadi hormatilah orang yang datang lebih dahulu, karena memang haknya untuk dilayani lebih dahulu. Lagipula kalau si “sakit” tidak bisa mengurus administrasi, bukankah ada sanak saudaranya?

      • Amus.dr Says:

        Sistem Informasi Rumah Sakit..saya setuju tanggapan opa..,memang permasalahan sekarang sebaiknya dibahas oleh Manajemen, Konsultan dan pengembang..agar semuanya enjoi..termasuk pasien..alangkah bagusnya kalau ada SI yang dapat memberikan solusi seperti opa maksudkan

  2. mutamakin Says:

    Kompleksnya permasalahan sistem informasi rumah sakit di Indonesia salahsatunya disebabkan belum adanya standar & panduan implementasi. Ketiadaan standar menimbulkan kondisi ketidakpastian yang mudah dimanfaatkan pihak-pihak yang terlibat untuk memainkan “agendanya” atau sekedar mencari untung semata. Dengan adanya standar, seperti HL7 (pertukaran data), CDA (representasi data), HIPAA (privasi & sekuriti), CCHIT (fungsionalitas sistem) akan memperjelas bagaimana seharusnya sistem informasi rumah sakit dibangun. Permasalahannya standar2 tersebut cenderung teknis, sehingga kurang bisa dipahami oleh pihak2 yang terlibat dalam pengembangan sistem informasi rumah sakit. Atau mungkin PIPK tertantang untuk menerjemahkan standar2 tersebut untuk lebih mudah diimplementasi🙂

  3. Anonymous Says:

    Kesadaran dari rumah sakit sendiri untuk mengembangkan TI ditempatnya dan mendapatkan vendor SIM RS yang bagus sekarang susah dicari, sehingga kadang pihak RS sering tertipu oleh janji – janji manis vendor

  4. boed Says:

    Dari pengalaman kami implementasi SIM di berbagai rumah sakit, satu hal yang penting yaitu direktur rumah sakit tersebut mempunyai keinginan kuat untuk mengembangkan TI, jika tidak maka SIM tersebut tidak akan berjalan maksimal, seperti pedang pusaka di tangan pendekar yang biasa – biasa saja. Juga SDM menjadi faktor yang penting,SIM yang bagus, SDM yang bagus, dan paradigma dari SDM itu sendiri menjadi satu kesatuan berhasilnya implementasi sebuah Sistem Informasi Manajem Rumah Sakit.

  5. tantoshttp://tantos.web.id Says:

    kalo masalah open source itu kan enginenya. Kalo kita ngopen source-in proyek kita, rugi nuh kita. udah bertapa(=koding) bermalam-malam, eh, hasilnya dijual orang laen…, kita…, ga dapet apa2…

    apalagi kita hidup di negeri yang saya cintai, negeri pembajak.

    *memble

  6. anis Says:

    mutamakin: pada kenyataannya beberapa implementasi sistem informasi rumah sakit yang dianggap sukses, malahan tidak menggunakan standar tersebut. Ada yg mengatakan bahwa penggunaan standar terbuka malah membuka pintu masuknya vendor asing ke suatu negara. Tetapi, dari sisi ilmiah saya setuju bahwa standar merupakan rujukan penting yang harus diikuti.
    anonymous: oleh karena itu jika rumah sakit tidak memiliki kemampuan memadai, disarakan menggunakan jasa pihak ketiga untuk memediasi interaksinya dengan vendor.
    boed: direktur sebagai champion merupakan kunci utama. Selain itu, clinical leadership mungkin juga perlu diperhatikan, terutama untuk aplikasi di klinik.
    tantos: SIM RS khan tidak hanya jualan softwarenya saja khan? Masih ada customisasi, masih ada training, masih ada help support

  7. henda wijakana Says:

    COBA ANDA SEMUA LIHAT…
    DI RSUD SIDOARJO, SIM RS DIPAKSA JALAN TANPA ADANYA DUKUNGAN PIHAK MANAJEMEN YANG KUAT, SEHINGGA TIM IT NYA KELIMPUNGAN,
    SEDANGKAN DIREKTUR NGGAK MAU TAU, POKOKNYA MINTA HASIL AKHIR YANG BAIK, TANPA MEMBERIKAN SOLUSI

    BAGAIMANA MENGATASI HAL YANG SEMACAM INI?

  8. tunsadei Says:

    Tingkat pemakaian IT
    Leng Ang, Davies dan Finlay (2001) menyatakan tentang tingkat pemakaian IT yang disimpulkan dari King dan Teo, 1994 mengidentifikasi bahwa organisasi dengan level pemakaian TI yang berbeda memliki persepsi yang berbeda pula terhadap faktor yang membantu dan menghalangi.
    Leng Ang, Davies dan Finlay (2001) menyatakan kesimpulan dan rekomendasi sebagai berikut:
    – Hasil penelitian menunjukkan diantara ketiga set prediktor (external, organsasional, dan teknogikal), kedua internal faktor (organisai dan teknolgi) mempunyai pengaruh yang lebih terhadap tingkat pemakaian TI dari pada faktor eksternal. Diantara kedua faktor internal, faktor teknologi ditemukan memiliki pengaruh yang terkuat terhadap pemakaian TI dibandingkan dengan faktor organisasi
    – sebagai tambahan studi baru ini menunjukkan bahwa kombinasi dari ketiga kategori tersebut memberikan kekuatan penjelasanan yang lebih baik untuk penggunaan TI dalam skala luas dibandingkan jika kita menggunakannya satu persatu
    – ketika responden dikelompokkan jadi 3 kelompok pemakai TI, analisa tersebut menghasilkan penemuan berikut ini:
    o ketika tingkat pemakaian TI rendah, faktor organisasi, khususnnya alokasi sumberdaya, memainkan peran yang penting dalam meningkatkan pemakaian TI. Secara natural level pemakaian TI organisasi rendah disebabakan alokasi sumber daya yang tidak cukup.. oleh karena itu untuk meningkatkan pemakaian TI, sumberdaya yang lebih dialokasikan untuk pengembangan aplikasi TI
    o untuk organisasi yang moderat tingkat pemakaian TI nya, antara organisasi dan teknologi mempengaruhi level pemakaian TI. Secara spesifik, setelah mencapai level moderate(cukup), organisasi yang memiliki dukungan yang kuat dari top manajemen namun dengan struktur sentralisasi TI yang kurang kemungkinan menungkatkan level pemakaian TI-nya.
    o Faktor teknologi adalah yang paling mempengaruhi terhadap pemakaian TI organisasi dari pada dua kategori lainnya dalam faktor kontekstualnya. Untuk organisasi ini aplikasi TI yang terintegrasi serta struktur distribusi promosi TI digunakan.

  9. Arif Says:

    Pa Anis, saya perawat dan dosen, tertarik simkes tp tdk punya dasar ilmu komputer, bisa nggak kalo saya ikut kuliah simkes?

  10. Arif Sujatmiko 1991 Says:

    Yth Pak Anis,

    RS saya sedang mengimplementasikan sistem informasi komputer berbasis wifi. Program dibuat oleh personel IT kami sendiri, dengan cara mengamati program SIRS milik RS lain yang sudah mapan. Saya sendiri turut terlibat dalam pengembangan alur flowchart programnya. Demi alasan keamanan, kami menggunakan sistem pemrograman visual basic dengan crystal report.
    Ada beberapa kesimpulan yang dapat saya sumbangkan:
    1. pimpinan yang computer literate mutlak perlu supaya dapat mengukur seberapa jauh jangkauan sistem informasi dan cost benefit serta efisiensinya.
    2. mengembangkan program sendiri jauh lebih murah daripada menggunakan software jadi yang dikembangkan pihak lain. Sample program yang dikirimkan oleh IT vendor juga berguna untuk memberikan ide-ide logika program.
    3. Untuk alasan biaya, hardware yang kami pergunakan kami putuskan menggunakan server yang high end tapi didukung cukup dengan workstation yang low end.
    4. Kami masih terus mengembangkan program kami, tetapi blog pak Anis tetap kami ikuti karena kami mendapat banyak inspirasi dari sini.

    Wassalam,

  11. wietsnowy Says:

    Berat kalau suatu tujuan berangkat dengan misi dan kepentingan masing-masing.
    Tapi dari postingan ini saya mengambil sudut pandang positif tujuan – Politik – tersebut, yaitu Strategi. Dengan kata lain pokok pembicaraan adalah bagaimana Sistem Rumah Sakit berbasis komputer berjalan dengan baik, baik di sini berarti mengakomodir regulasi yang ditetapkan, baik juga dalam meningkatkan pelayanan, serta baik dalam pemenuhan kebutuhan di setiap Rumah Sakit di mana masing-masing Rumah Sakit memiliki keunikan tersendiri.

    Anis :
    1. “pemerintah daerah yang menekan RSUD sebagai salah satu sumber pendapatan daerah” —> Tidak dipungkiri Rumah Sakit memiliki 2 misi, pertama misi Sosial Pelayanan, kedua misi menjadi salah satu Profit Center. Yang pertama jelas harus dipenuhi, yang kedua tentunya dana operasional tidak jatuh dari langit kan pak Anis?🙂
    Saya kira hal ini sudah dijembatani dengan apa yg disebut BLU.

    2. “Organisasi”, yang satu ini tentunya bukan saja dibutuhkan “leader” yang powerfull seperti pendekar yang disebut Boed, melainkan pemahaman semua lini di rumah sakit akan tujuan SIM itu sendiri.

    3. SDM, bagian ini menjadi bagian yang tidak kalah penting, karena paradigma yang sudah bergeser, di mana dalam pengelolaan rumah sakit bukan saja perlu SDM dari sisi medis. Just take “Right man in the right place”. Atau kalau tidak memungkinkan, tentunya kita tidak lagi skeptis dengan Outsource kan?

    Tanto :
    Opensource tergantung bagaimana implementasinya. Opensource dengan kondisi sekarang di mana masih ada pihak yang tidak menghargai hak intelektual, bukan tidak mungkin pendapat pak Tanto jadi benar. Terlepas dari apakah akan dijual lagi atau tidak, kesepakatan bisa dipertimbangkan.

    Tunsadei :
    Dari mana kita harus mulai pak?

  12. sudiono@MEDEEVA Says:

    Dear All,

    SIM RS Terintegrasi jawabannya. Caranya adalah Rumah Sakit yang membutuhkan aplikasi dapat menghubungi ke Sistem Integrator yang kompeten dan tidak umbar janji.

    dimanakah jalur yang tepat dan benar, maka sebaiknya bisa menghubungi instansi yang benar dan kompeten.

  13. ary Says:

    Saya sangat setuju atas jawaban diatas ( SIM RS terintegrasi ), bila berminat silahkan menghubungi saya ary_sulis@ymail.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: