Pola spasial TB di kota Jogja: sebuah proposal

Tuberkulosis (TB) masih merupakan ancaman kesehatan utama di negara berkembang. Indonesia menempati posisi ketiga dalam jumlah kasus setelah India dan China. Setiap tahun ratusan ribu pasien TB ditemukan di berbagai fasilitas kesehatan di Indonesia.

Hingga saat ini, pemberantasan TB ditulangpunggungi oleh kegiatan surveilans. Aktivitas ini diinisiasi oleh pemerintah melalui jaringan pemberantasan TB di masing-masing kabupaten yang dikoordinir oleh dinas kesehatan bekerjasama dengan fasilitas kesehatan baik puskesmas, rumah sakit, klinik maupun praktek swasta. Program ini secara hirarkis dipuncaki oleh Departemen Kesehatan melalui Direktorat Jenderal P2PL (Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan). Pemerintah telah menetapkan panduan penatalaksaan pemberantasan TB disertai dengan pedoman untuk pencatatan dan pelaporan data. Salah satu fungsi surveilans yang cukup penting adalah melakukan analisis serta diseminasi hasil surveilans untuk memberikan masukan bagi para pengambil kebijakan. Sayangnya, sebagian besar olahan informasi surveilans TB masih terbatas dalam bentuk grafik dan tabel. Kalaupun ada dalam bentuk peta, masih dalam bentuk agregat tematik di tingkat administratif yang besar (kabupaten atau kecamatan). Jarang dijumpai peta kasus yang menunjukkan lokasi pasien secara individual. Di kota Jogja pun demikian.

Hal inilah yang akan diteliti oleh Tita, mahasiswi FK UGM angkatan 2003 yang sedang menulis skripsi tentang pola spasial dan temporal tuberkulosis di kota Jogja Juli – Desember 2003. Berdasarkan register TB di kota Jogja, dia mendatangi satu persatu pasien TB dan mencatat koordinat geografis menggunakan GPS. Penelitiannya memang belum selesai, namun sudah mengumpulkan lebih kurang 120-an kasus. Data yang terkumpul nantinya akan diolah menggunaka Epimap. Analisis lebih lanjut mungkin akan dilakukan dengan bantuan Geoda atau Satscan.

Meskipun belum selesai, data sementara menunjukkan bahwa kasus TB tidak hanya dipengaruhi oleh kemiskinan individual tetapi juga kemiskinan kolektif. Hal ini ditunjukkan dengan adanya kluster TB pada pemukiman kumuh, padat serta di daerah tepian sungai.

Meskipun bukan sesuatu yang baru, penelitian Tita merupakan yang pertama dilakukan oleh mahasiswa FK UGM berkaitan dengan epidemiologi spasial. Wilkinson dan Tanser (1999) sudah pernah melakukan penelitian mengenai aspek spasial untuk pemberantasan TB di Afrika Selatan. Mereka menyimpulkan bahwa GPS dan sistem informasi geografis berperan penting dalam program pemberantasan TB. Adalah Torstend Hagerstand, seorang geografer dari Swedia, yang meletakkan dasar-dasar kajian spasial untuk penyakit menular pada tahun 1953 saat menuliskan disertasinya mengenai difusi spasial.

Ada 3 kontribusi utama pendekatan ini dalam pemberantasan penyakit menular. Pertama, dengan menggunakan peta diharapkan muncul gambaran deskriptif mengenai distribusi serta penyebaran penyakit menular. Peta yang akurat dalam bentuk sekuens diharapkan dapat menjawab pertanyaan apa yang terjadi dan mengapa. Peta tematik yang ada di seksi surveilans mungkin baru bisa menggambarkan apa yang terjadi belum sampai ke mengapa.

Kedua, keberadaan peta diharapkan dapat memberikan aspek prediktif penyebaran penyakit menular. Sebagai penyakit yang menular yang diidentifikasi dengan ada tidaknya kontak dengan penderita, keberadaan peta kasus TB secara individual tentu sangat penting. Jika peta akurat dari masa lalu dapat diidentifikasi polanya, dengan asumsi yang sama kita mungkin dapat memprediksi masa depan. Sebagaimana orang memanfaatkan ramalan cuaca sebagai alat bantu, seiring dengan tingkat keakuratan yang semakin tinggi, para ahli pengambil kebijakan diharapkan menggunakan peta prediktif untuk memprediksi masa depan.

Ketiga, model interaktif. Jika pada tahap dua, pola prediksi hanya sebatas ramalan penyakit, tetapi jika menggunakan pendekatan interaktif, kita dapat menentukan intervensi serta dampaknya bagi masa depan. Model interaksi ini merupakan resulta dari pelibatan faktor-faktor berpengaruh seperti diterapkan maupun tingginya cakupan vaksinasi BCG, ketersediaan layanan pemeriksaan dan obat TB di fasilitas kesehatan, pelaksanaan DOTS maupun partisipasi masyarakat dalam penanggulangan TB dengan berbagai nilai atributnya. Aspek interaktif dapat memberikan prediksi serta masukan yang baik para pengambil kebijakan untuk mengevaluasi intervensi yang telah dilakukan.

Oleh karena itu, mari kita tunggu hasil penelitian Tita. Allez allez allez…. (eh kok kayak nyemangatin tim Les Bleus….)

<Update 23 Mei 2008: Hasil penelitian Tita saya presentasikan di kongres JEN (Jaringan Epidemiologi Nasional di Semarang tahun 2007 lalu. Makalahnya ada di sini.>

9 Tanggapan to “Pola spasial TB di kota Jogja: sebuah proposal”

  1. tikabanget Says:

    hehehe.. Secara gw abis kasi training klien dari puskesmas, jadi banyak pengetahuan gitu bab penyakit..
    Dan obat yang gw apal cuma antalgin sama amoksilin.. ;p

    *comment gak nyambung..*

  2. hendrohttp://hendroprasetyo.blogsome.com Says:

    Setelah sekian puluh tahun, negara kita belum juga dinyatakan bebas TB. Memang sudah banyak kemajuan, tapi mestinya bisa lebih baik lagi. Setidaknya pulau jawa yang lebih maju dan infrastruktur kesehatannya lebih bagus bisa jadi contoh. Bahkan Yogyakarta yang konon kesehatan masyarakatnya paling baik pun belum bebas TB.
    Penggunaan GPS dan mapping wilayah sebaran TB ide yang sangat bagus. Pengendalian TB memang perlu ada terobosan metode agar bisa lebih efektif. Kasus putus obat setahu saya menjadi alasan utama mengapa TB masih terus ada. Meskipun sudah ada mekanisme dan insentif untuk memastikan para penderita TB tidak putus obat, di lapangan masih banyak saja yang drop-out, karena faktor pendidikan, ketelatenan, kedisiplinan, dll.
    Alangkah bagusnya bila ada juga database yang mencatat secara realtime data para penderita yang sedang menjalani terapi. Bila ada yang drop-out obat, bisa ada “Unit Reaksi Cepat” untuk menangani. Dalam penanganan TB, the devil is in details. Perhatiannya betul-betul sampai level personal para penderita.

    (Pendapat dari orang awam yang sama sekali tidak pakar ilmu kesehatan masyarakat!)

  3. tita Says:

    Wah bos, makasih ya dah mempromosikan aku… Btw laporan terakhir, penelitian udah selesai, total data terkumpul 209 titik rumah. Tinggal nunggu sampeyan para maha guruku bwat ngajarin aku Geoda sama Satscan buat analisis data. Aku dah baca dikit ttg Geoda dan udah buka2 ni, tapi kok tak kunjung dong pulalah ya?
    Ya moga2 hasil2 penelitian ini bisa membawa kebaikan buat masyarakat yah… I really hope so… Smangattt!!!

  4. danar Says:

    maaf mengganggu sebentar.
    saya danar lg mau nyusun skripsi tentang SIG, kebetulan saya membaca artikel ini.saya di jurusan geodesi UGM, jika berkenan saya boleh minta email sodari tita untuk kerja sama. saya ada peta jogja dg mapinfo,saya tertarik dengan pola spasial yang di sampaikan sodari tita.trima kasih

  5. nahawa Says:

    saya juga berminat melakukan penelitian kesehatan (TB) dengan memmakai GIS. saya ingin lihat hasil penelitian saudari tita. lokasi penelitian saya di kabupaten majene sulawesi barat. disana banyak terjadi kasus TB. mohon bantuaanya!!!

  6. yahdi mayasya Says:

    Sebuah ide yang bagus (kata yang muncul pertama kali saya membaca ide tsb), viva for Tita…!!!
    GIS memang sangat membantu dalam penanggulangan Tb, namun ada satu hal yang perlu diperhitungkan. Banyak penderita Tb yang tidak mau berobat karena faktor “gengsi” (ini terjadi di Jakarta lho…). faktor stigma masyarakat yang mengkonotasikan penderita Tb secara negatif dapat menjadi kendala dalam memetakan kasus Tb secara akurat. banyak masyarakat yang menutup-nutupi kasus ini apabila terjadi pada keluarganya. Sehingga akan menjadi kendala dalam mengumpulkan data yang akurat untuk pembuatan mapping.
    Mudah2an tidak menjadi kendala bwt Tika.
    Kalau boleh saya minta review hasilnya ya jika sudah jadi
    ^_^

  7. Indri Says:

    Klo boleh nanya, analisis datanya akhirnya pake apa ya? Epi Info? Geoda ama satscan nya untuk apa? Maaf klo terkesan pertanyaan bodoh😀 Makasih


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: