Payung anti pandemi bagi dunia bisnis

Kategori: IKM

Mencegah lebih baik daripada mengobati. Sedia payung sebelum hujan. Begitulah nasihat yang sering kita dengar. Intinya sama, kesiapsiagaan menghadapi bencana. Semenjak musibah gempa di DIY-Jateng, istilah disaster preparedness alias kesiapsiagaan bencana menjadi lebih sering didengung-dengungkan. Semua berkomentar, seandainya kita memiliki kesiapsiagaan terhadap bencana gempa, mungkin tidak akan jatuh korban sebanyak itu. Sayangnya, semua bicara preparedness setelah musibah terjadi.

Selain bencana alam, bangsa kita juga harus bersiap-siap dengan ancaman bencana lain, yaitu pandemi flu burung. Saat ini, Indonesia adalah negara yang paling parah mengalami kejadian luar biasa (KLB) flu burung. Pada tahun 2006, seperempat kasus flu burung pada manusia di dunia terjadi di negara kita. Sebagian besar (tiga per empat)nya berakhir dengan kematian. Indonesia saat ini adalah negara yang paling parah. Korban di Indonesia terus berjatuhan, sementara di Vietnam dan Thailand cenderung membaik.

Benar-benar berbahaya
Dalam konteks ini, pembicaraan tentang kesiapsiagaan menghadapi pandemi flu burung menjadi sangat relevan. Sulit dibayangkan jika pandemi flu burung terjadi. Jika virus flu burung sudah bermutasi, sehingga sangat mudah menular dari manusia ke manusia, skenario terbaik WHO memperkirakan akan ada 2 – 7,4 juta orang di dunia meninggal. Skenario terburuk 100 juta orang akan meninggal, belum lagi dampak pada dunia usaha, perjalanan, pariwisata dan kegiatan ekonomi lainnya. Peringatan bahwa pandemi flu burung merupakan ancaman eksogen serius bagi perekonomian global sudah dinyatakan oleh Bank Dunia.

Saat ini kita berada pada level 3 dari 6 tingkatan menuju pandemi flu burung. Pada tahap ini tidak ada bukti (kalaupun ada sangat terbatas) mengenai penularan flu burung dari manusia ke manusia. Dengan penuh kekhawatiran, kita memang tidak berharap akan mencapai tingkat lebih tinggi. Akan tetapi, beberapa kalangan sudah mencurigai adanya kecenderungan ke arah hal tersebut. Ditemukannya kluster flu burung terbesar di Tanah Karo bulan Mei yang lalu, maupun dicurigainya seorang perawat setelah sepuluh hari sebelumnya merawat pasien flu burung dari Jawa Barat, menjadi salah satu penguat kecurigaan tersebut. Syukurlah, hasil pemeriksaan laboratorium pada perawat tersebut negatif.

Selama ini, upaya kesiapsiagaan flu burung sering dialamatkan kepada sektor kesehatan dan peternakan. Mereka sangat diharapkan untuk segera menemukan vaksin anti flu burung serta antibiotik yang ampuh. Penyelidikan mengenai ada tidaknya mutasi virus H5N1 terus menerus dilakukan di laboratorium. Rumah sakit diminta menggiatkan kewaspadaan umum (universal precaution) serta kepatuhan terhadap protokol klinis (clinical guideline) penanganan flu burung. Di lapangan, ahli epidemiologi diminta untuk terus aktif melakukan surveilans. Bagaimana dengan sektor bisnis?

Dampak dan antisipasi
Dampak pandemi flu burung bagi dunia bisnis meliputi morbiditas (kesakitan akibat flu burung), mortalitas (kematian akibat flu burung), biaya perawatan kesehatan, biaya ekonomis di luar kesehatan maupun biaya sosial yang menimpa karyawan, pelanggan dan penyuplai mereka. Kalangan bisnis memang sudah terbiasa dengan berbagai ancaman yang selalu mempengaruhi keselamatan bisnis mereka, mulai dari pemogokan buruh, kenaikan tarif listrik, naik turunnya nilai rupiah sampai ke suap dan korupsi. Tetapi ancaman dari mutasi virus H5N1 ini akan jauh lebih ganas dibandingkan berbagai ancaman konvensional yang biasa mereka atasi selama ini.

Jika perusahaan sudah menyiapkan disaster plan terhadap kebakaran, listrik mati, pencurian data, termasuk gempa bumi, maka ancaman pandemi flu burung akan sangat berbeda. Harvard Business Review edisi Mei 2006 memuat daftar tilik tentang kesiapsiagaan terhadap pandemi bagi pelaku bisnis. Daftar tilik tersebut sudah dimodifikasi dari sumber asli yang dikembangkan oleh oleh Depkes dan Badan Pengendalian Penyakit AS. Daftar tilik tersebut memuat 35 langkah yang terbagi dalam 6 komponen utama dalam menghadapi pandemi. Ketigapuluh lima langkah tersebut dapat ditemukan di http://pandemicflu.gov/plan/businesschecklist.html.

Keenam strategi tersebut adalah: 1)Perencanaan terhadap dampak bagi bisnis Anda, 2)Perencanan terhadap dampak bagi karyawan dan pelanggan, 3)Penegakan kebijakan yang harus diterapkan selama fase pandemi, 4)Alokasi sumber daya untuk melindungi karyawan dan pelanggan pada waktu pandemi, 5)Komunikasi dan edukasi bagi karyawan dan 6)Menolong masyarakat. Masing-masing langkah tersebut dapat dinilai berdasarkan tiga derajat status, yaitu lengkap, in progress atau belum dijalankan.

Tidak hanya melengkapi dengan daftar tilik yang terkesan kering, organisasi bisnis juga perlu menyiapkan berbagai skenario yang digambarkan dalam suatu diagram pengaruh (influence diagram). Menurut Barruch (2006), pembuatan diagram tersebut dimaksudkan agar pelaku bisnis memahami semua faktor yang terlibat dalam kompleksitas dampak pandemi bagi organisasi. Pelaku bisnis perlu memahami titik aksi (action node) yaitu setiap intervensi yang dapat menghambat efek pandemi seperti penemuan vaksin, strategi antibiotik, perubahan pola rumah sakit, surveilans penyakit, penghambat penularan maupun komunikasi. Memberikan dukungan pada aksi tersebut dapat dianggap sebagai investasi dan upaya penyelamatan bisnis mereka, walaupun tidak secara langsung. Selain itu, diagram tersebut juga perlu menggambarkan titik peluang (chance node), yaitu faktor-faktor yang menjadi perantara dari titik aksi ke dampak terhadap organisasi (morbiditas, mortalitas, biaya perawatan, biaya ekonomis di luar perawatan dan biaya sosial). Untuk membuat diagram pengaruh secara meyakinkan, berbagai bacaan mengenai flu burung termasuk tingkatan pandemi menurut WHO merupakan rujukan penting yang perlu dijadikan acuan.

Bagaimana bisnis Anda?
Akhirnya, yang membedakan organisasi yang berhasil dan yang gagal adalah kemampuan mereka menerjemahkan visi penyelamatan organisasi ke dalam strategi kesiapsiagaan terhadap bencana. Saat ini orang akan mengenang Hongkong, melalui upaya pemusnahan 1 juta ayam di tahun 1997, sebagai contoh negara yang berhasil mengatasi SARS dibandingkan dengan China, yang menutup-nutupi kasus tersebut dan gagal mengatasi SARS pada tahun 2003. Demikian juga, Pakistan dinilai berhasil menerapkan imunisasi polio dikomparasikan dengan Nigeria yang lalai sehingga virus polio liarnya merambah ke Indonesia melalui Arab Saudi.

Apa yang Anda harapkan terhadap pandangan orang lain kepada dunia bisnis Anda jika pandemi flu burung terjadi? Sebelum pandemi tiba (semoga saja tidak), masih ada waktu untuk menyiapkan payung bisnis Anda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: