Lumpur panas itu…

Belum lagi perhatian masyarakat lepas dari gempa di Jogja-Jateng ada berita lain terkait dengan bencana. Lumpur panas di Sidoarjo. Berita ini mungkin tenggelam dibanding dengan demam Piala Dunia. Tetapi apakah ini bencana? Bukankah bencana ditandai dengan adanya korban yang meninggal banyak serta terjadi secara mendadak?

Memang ada berbagai pengertian bencana. Dari sudut pandang kesehatan masyarakat, bencana dipahami berdasarkan apa akibatnya terhadap manusia, tidak hanya dilihat sebagai fenomena geologis atau teknis semata. Pendekatan ini melihat konsekuensinya terhadap kesehatan dan pelayanan kesehatan. Tetapi, pengertian bencana menurut komunitas tertentu bisa berarti bukan bagi kelompok masyarakat lainnya.

Umumnya, bencana dapat dikategorikan sebagai bencana alam dan bencana yang diperbuat oleh manusia (human-generated). Pemisahan kategori ini kadang membingungkan, sehingga ada kategori yang menggabungkan keduanya, yaitu Na-Tech (natural and technological). Banjir lumpur panas di Sidoarjo ini dapat dimasukkan dalam kategori tersebut. Bencana ini konon disebabkan oleh karena macetnya salah satu bor pada waktu eksplorasi sehingga saat tekanan tinggi gas keluar melalui saluran tanah ke permukaan bumi. Meskipun disebut Na-Tech, penyebabnya dapat merupakan kombinasi atau salah satu dari berbagai faktor, yaitu alam (pihak perusahaan mengatakan disebabkan oleh pergeseran tanah setelah gempa bumi), teknis (bor macet), aspek manusianya (ketrampilan, pengalaman serta prosedur).

Dari sisi korban, bencana ini memang belum apa-apanya jika dibandingkan dengan kasus Na-Tech yang paling populer yaitu Bhopal. Terlepasnya ke udara zat kimia berbahaya methyl isocyanate pada pabrik Union Carbid di Bhopal (India) mengakibatkan 2.500 orang meninggal dan hampir 200.000 orang lainnya mengalami kesakitan.

Bencana Na-Tech saat ini semakin sering terjadi di negara berkembang khususnya yang sedang mendorong pertumbuhan industri dan merupakan ancaman serius bagi masyarakat. Ada beberapa alasan. Pertama, tidak adanya aturan yang jelas mengenai zona pemukiman dan perindustrian. Meskipun sudah ada aturan, perundangan tersebut mampu memberikan sanksi yang jelas bagi masyarakat atau bahkan pihak industri yang melanggar. Kedua, masyarakat golongan menengah ke bawah, karena desakan ekonomi justru banyak tinggal di daerah yang berdekatan dengan kawasan industri. Ketiga, ketidaksiapan pihak industri dengan berbagai perangkat untuk menjamin keamanan, keselamatan dan kesehatan kerja.

Dalam salah satu media elektronik disebutkan bahwa PT Lapindo Brantas sedang tidak beruntung, karena kemungkinan kegagalan dalam eksplorasi gas selalu ada. Tetapi sebenarnya, masyarakat serta pihak-pihak lain lebih tidak beruntung lagi. Pasalnya, mereka sama sekali tidak pernah membayangkan sebelumnya adanya skenario banjir lumpur panas ini. Sampai-sampai 13 pabrik lumpuh.

Belum masalah kesehatan?
Problem lumpur panas ini memang sudah sewajarnya menarik perhatian Menteri Kesehatan. Sambil mengutip pendapat Kepala Dinas Kesehatan Sidoarjo, Dr Siti Fadilah Supari mengatakan bahwa bahwa sejauh ini tidak ada masalah kesehatan. Ini tentu saja berbeda dengan berita di sumber yang sama yang mengatakan bahwa sebagian warga mulai cemas dan sesak napas (ANTARA News, 11 Juni 2006).

Jawaban tersebut merupakan alasan klasik pendekatan kuratif. Masalah kesehatan seringkali dinilai dari kunjungan pasien ke dokter atau fasilitas kesehatan. Jika lumpur sudah menggenangi perumahan dan mengganggu sanitasi serta sumber air bersih, saya kira semua sependapat bahwa itu sudah merupakan masalah kesehatan. Jika masyarakat menjadi uring-uringan, mengalami gangguan psikologis secara berkelompok, mereka sudah di luar kriteria sehat sejahtera menurut pengertian WHO.

Respon kesehatan masyarakat
Tanpa harus memperdebatkan pengertian bencana maupun masalah kesehatan, langkah terpenting sebagai respon kesehatan masyarakat tentu saja adalah melindungi warga serta menjamin kesehatan mereka. Dinas Kesehatan kabupaten Sidoarjo sudah menyiapkan posko kesehatan di lokasi lumpur panas. Tanpa dipublikasikanpun, mereka mungkin sudah menyiapkan langkah-langkah operasional standar, misalnya dengan membentuk tim koordinasi penanganan bencana lumpur panas.

Keberadaan tim ini merupakan simpul penting untuk mengkoordinasikan semua kegiatan kesehatan masyarakat. Langkah terpenting adalah melakukan identifikasi bahaya (hazard identification), yaitu penilaian risiko terhadap kesehatan, investigasi adanya pelepasan zat toksis, sampai kepada dampak kepada masyarakat secara umum. Penyiapan fasilitas kesehatan maupun berbagai suplai obat-obatan serta tenaga kesehatan juga sudah seharusnya dipersiapkan. Tim tersebut juga harus berperan aktif dalam menjembatan komunikasi publik bagi kepada masyarakat (sebagai korban), kepada pihak yang dianggap bertanggung jawab (PT Lapindo), dinas terkait serta serta tim ahli lain. Selain itu, kegiatan surveilans yang biasanya terfokus kepada program vertikal misalnya (tetapi tidak terbatas hanya) TB, dengue, malaria, polio, flu burung, atau problem gizi juga harus diikuti dengan surveilans faktor risiko penyakit terkait dengan industri. Tanpa adanya bencana inipun, dinas kesehatan juga dapat memberikan prioritas surveilans khususnya bagi gejala atau penyakit terkait dengan polusi/industri.

Sebagai langkah antisipatif, bagi daerah yang memiliki kawasan industri (seperti Sidoarjo) dinas kesehatan sudah seharusnya memiliki kebijakan mengenai kesiapsiagaan terhadap bencana yang terkait dengan industri. Bersama dengan sektor terkait lain seperti dinas pemukiman/tata kotas, dinas kesehatan perlu membuat analisis kerawanan (vulnerability analysis) khususnya bagi wilayah berisiko. Hasil analisis ini merupakan masukan penting bagi dinas kesehatan maupun puskesmas untuk selalu melakukan advokasi kepada masyarakat terhadap segala kemungkinan ancaman bencana yang bersifat Na-Tech serta langkah-langkah antisipatif.

Bencana sekecil apapun merupakan pelajaran penting bagi masa depan umat manusia.

Satu Tanggapan to “Lumpur panas itu…”

  1. topina Says:

    Pagi mba Anis
    kita liat aja wilayah yg terendam banjir itu akan dimanfaatkan sebagai apa di masa yg akan datang oleh pihak2 yang bisa mengambil kesempatan di antara bencana


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: