Web-GIS dan gempa Jogja-Jateng

Barusan aku posting tentang WebGIS di milist dosenUGM. Demikian….

Biasanya orang menyebut web-GIS jika itu memang suatu aplikasi sistem informasi geografis yang ditampilkan melalui protokol Internet. Biasanya orang menggunakan aplikasi GIS standalone spt ArcView, MapInfo (komersial) atau Epimap (gratis, populer di kesehatan). Meskipun berbasis Internet, aplikasi GISnya masih mengikuti kaidah standar geografis misalnya skala ataupun posisi geografis.

Sebagaimana kita ketahui ada tiga website terkait GIS yang dapat diakses di Internet. Semuanya (jika saya tidak keliru) merupakan kontribusi teman-teman di UGM.
-PUSPICS (http://puspics.ugm.ac.id/yogya.phtml)
Web ini mungkin dibuat menggunakan aplikasi komersial ArcIMS (atau yang lain, mohon dikoreksi). Data spasial sangat lengkap mulai dari jalan, batas administratif sampai dengan data terkait bencana seperti lokasi pengungsi, status kerusakan dan kebutuhan korban.
-WebGIS Geodesi (http://202.169.224.77/gempa/Publish_13-30/)
Saat saya menulis ini, data yang tersedia di sini tidak selengkap PUSPICS. Jika browser Anda belum terinstall dengan plug-in SVG viewer harus instalasi terlebih dahulu.
-Help Jogja (http://helpjogja.net/data_desa/peta.php)
Saya kira dibuat menggunakan PHP dan serta link image. Nah, kalau yang ini paling cepat diakses. Tetapi, data geografisnya tidak lengkap, hanya batas administratif sampai tingkat desa. Saya tidak tahu apakah bisa disebut sebagai web-GIS. Keterangan geografis pendukung seperti jalan, maupun koordinat lokasi tertentu belum ada. Tetapi, saya kira maksudnya memang menjadikan aplikasi cepat diakses serta mempermudah proses update sesuai kondisi terakhir di lapangan.

Di Internet, kita juga dapat memperoleh layer kml(http://jaga.gc.cs.cmu.edu/rapid/200605-indonesia-quake/pub/indonesia-overlays-netlink.kml) untuk Google Earth yang menampilkan foto satelit daerah gempa. Jika Bapak/Ibu sudah punya Google Earth (dapat didownload free dari earth.google.com) kita dapat melihat tampilan dari udara yang lebih jelas mengenai beberapa wilaya Bantul serta asumsi kerusakan. Mengakses gambar foto satelit ini jauh lebih cepat daripada melalui website PUSPICS (saya di Groningen, mungkin berbeda dengan di Jogja).

Nah, terkait dengan isyu pengembangan web-GIS utk bencana, saya kira tidak hanya berkaitan dengan aspek pasca bencana tetapi juga untuk pra bencananya juga. Saya merasakan data spasial lebih mudah diakses setelah bencana. Sama halnya waktu di Aceh dulu. Itu malah lebih parah lagi, karena 1 bulan setelah tsunami di UN pun masih menggunakan peta spasial sebelum pemekaran menjadi 21 kabupaten. Barusan saya membaca di milist, AU telah selesai melakukan pemotretan udara. Untuk dapat memanfaatkan data spasial tersebut harus melalui security clearance dulu di ITWILHAN, begitu katanya. Saya kira, aspek spatial data sharing ini yang juga harus diperbaiki lagi. Di beberapa negara maju, data spatial dapat diperoleh secara gratis khususnya untuk riset dan pendidikan. Kalau data spatial lebih mudah diakses, pengolahan data berbasis GIS akan semakin banyak dilakukan, apalagi sekarang software GIS yang gratis juga banyak, sehingga moga-moga publikasi juga lebih banyak (jadi ingat kalo di MEDLINE publikasi tentang kesehatan terkait tsunami di Aceh lebih banyak ditulis oleh orang asing lho..)

Isyu kedua saya kira berkaitan dengan kecepatan akses, tampilan data dan integrasi dengan data tabular. Contoh website di atas masih GIS banget, kecuali helpjogja.net. Menurut saya, ini juga harus diikuti dengan integrasi dengan data non spasial spt surveilans penyakit, jumlah pengungsi setiap kamp, foto kerusakan (bukan foto udara lho). Tampilan yang bersifat tematik ini mungkin akan banyak membantu proses pengambilan keputusan. Berarti kerjasama dengan orang teknis di sektor masing-masing ya… Ini juga termasuk pengalaman kesulitan kami saat membantu Dinkes prop NAD sewaktu pasca tsunami dulu. Kami pernah membuatkan website peta kerusakan fasilitas kesehatan setelah melakukan assessment fasilitas kesehatan di selurun NAD (http://map.depkes.go.id), menggunakan Mapserver, aplikasi free yg dapat didownload di Internet. Meskipun aplikasi ini relatif lebih cepa diakses, tetapi belum dapat mengintegrasikan dengan peta tematik seperti jumlah penduduk per kabupaten, data penyakit dlsb.

Nah yang ketiga saya kira terkait dengan updating data. Penggunaan Mapserver, seperti yang telah kami lakukan di ACeh, belum memungkinkan user untuk mengupdate data secara langsung. Tampilan peta masih berasal dari data spasial (shapefile), belum menggunakan database. Konon, Mapserver yang baru sudah dapat mengombinasikan dengan database mysql secara langsung. Selain itu, penggunaan aplikasi berbasis PHP selain Mapserver mungkin bisa dilakukan untuk sekaligus mengupdate tampilan peta tematik.

tambahan (13 juni)
link terkait
++Sistem informasi geografis kesehatan untuk manajemen bencana
++geografi kesehatan
++peta flu burung untuk google earth

Satu Tanggapan to “Web-GIS dan gempa Jogja-Jateng”

  1. mul Says:

    saya turut brduka kRn byk sekali bencana yg melanda di indonesia, terutama gempa di jateng,bncana wasior n tsunami di mentawai.
    semoga bisa tabah dlm menghadapi cobaan ini .


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: