Manajemen bencana: dimana ya… dalam kurikulum kedokteran kita?

Gempa di Jogja-Jateng akhir Mei kemarin sekali lagi menghentakkan kesadaran kita bahwa Indonesia adalah negara rawan bencana. Dalam dua tahun belakangan ini, dengan tiga bencana, Aceh, Nias dan terakhir Jogja tidak kurang dari 200 ribu nyawa melayang. Jauh lebih banyak lagi yang cedera, mengalami kesakitan, kehilangan rumah serta mengalamai kesengsaraan psiko-sosial-ekonomis.

Sebagai masalah kesehatan, dari sisi jumlah korban, bencana mungkin dapat disetarakan dengan besarnya masalah karena tuberkulosis, HIV/AIDS, dengue dan malaria. Topik yang sudah sangat familiar bagi mahasiswa kedokteran kita. Lalu bagaimana dengan bencana? Apakah lulusan pendidikan dokter kita sudah dibekali dengan kompetensi yang meyakinkan untuk menangani bencana? Padahal negara kita rawan bencana……

Pengalaman di Jogja kemarin, meski sudah siap-siap dengan letusan Merapi, tetapi ketika tiba-tiba banyak korban gempa berdatangan dalam jumlah yang besar dan serempak, rumah-rumah sakit, puskesmas dan klinik pada keteteran juga. Temanku cerita, dia bahkan tidak ingat apakah waktu menjahit luka dalam keadaan aseptik atau tidak, termasuk ragu apakah disertai dengan lidokain (obat anestesi).
Padahal peran dokter dalam bencana tidak hanya pada fase emergensi saja. Memang keberhasilan pada fase ini akan menyelamatkan banyak nyawa. Tetapi, dokter juga dapat berperan penting pada fase rekonstruksi. Dengan bekerjasama dalam aktivitas kesehatan masyarakat, meski kegiatan mungkin memerlukan waktu yang lebih lama, dokter berperan dalam mengendalikan penyakit, surveilans, pencegahan memburuknya status gizi serta mengantisipasi kesehatan reproduksi khususnya mereka yang berada di kamp pengungsi.

Yang menjadi pertanyaan sekarang, apakah mahasiswa kedokteran kita siap terjun dalam domain yang sangat kompleks tersebut? Tentu kita harus optimis, jawabannya iya. Memang sangat ambisius jika harus mengembangkan modul khusus tentang bencana bagi mahasiswa kedokteran. Tetapi, paling tidak materi kursus bagi mereka yang telah menjadi anggota Brigade Siaga Bencana dapat memberikan pemahaman yang lebih baik kepada para mahasiswa kita. Tentu saja, akan lebih baik jika mengalami secara langsung seperti waktu bencana kemarin.

Apalagi sekarang kurikulumnya menggunakan KIPDI III yang mengutamakan pendekatan berbasis kompetensi. OK..mungkin ini sudah tulisan yang basi banget.. mereka (para ahli pendidikan kedokteran) bahkan mungkin sudah membuat modul yang lengkap. Jika ya, boleh dong lihat…..

4 Tanggapan to “Manajemen bencana: dimana ya… dalam kurikulum kedokteran kita?”

  1. Riza Pratama Putra Says:

    akhirnya doa mas terkabul….
    sekarang sudah ada modul management disaster d kurikulum pendidikan dokter,….
    saya sedang menjalaniny d fk unsyiah…..
    semoga ilmu ny nanti benar2 bermanfaat pada saat dibutuhkan…..

  2. Dwi Kristiani Says:

    Rekan Anis,

    Perkenalkan saya Dwi Kristiani dari SOlution Exchange DMRR Community.
    Kebetulan saya sedang menangani sebuah diskusi sesuai dengan tema tulisan Anis pada blog ini.
    Saya ingin meminta izin untuk melayangkan tulisan Anis sebagai salah satu tanggapan pada Pertanyaan yang dilontarkan oleh Rosaria Indah dari FK Unsyiah (mungkin Riza Pratama mengenal beliau)

    Saya berharap balasan dari anda, terimakasih sebelumnya

    DK

  3. Ir.sugianto Says:

    kalo semua orang pada punya empati u komdisi negri tercinta ini, kita berharap bencana semakin berkurang. karena kita harus sadari bw bencana ini akbt ulah mns

  4. Ir.sugianto Says:

    bu dwi kemana sy dapatkan modul pelatihan siaga bencana berbasis masyarakat. tq u kerjasamanya kami dipdg sumbar.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: