Hmmm…Bapak kita yang satu ini…..

Kemarin (1 Juni), Wapres Jusuf Kalla menyarankan bahwa bantuan tenaga medis asing ke Yogyakarta distop saja. Fasilitas dan tenaga medis yang ada sudah cukup. Mengutip pernyataan beliau yang dimuat di Detik.com “lebih baik bantuan untuk rehabilitasi rakyat dan perumahan daripada tenaga medis”. Membaca pertama kali, komentarku dalam hati, “hebat juga Bapak kita yang satu ini, tegas mengambil keputusan, mengalokasikan sumber daya dalam kondisi darurat seperti ini”.

Memang, dalam kasus bencana, penanganan medis darurat sangat-sangat dibutuhkan pada 24 jam pertama. Idealnya, pelayanan medis untuk korban bencana melputi pertolongan pertama untuk menyelamatkan hidup atau immediate life-supporting first aid (LSFA), pertolongan penanganan trauma atau advanced trauma life support (ATLS), bedah resusitasi, analgesia dan anestesi lapangan, teknologi SAR serta perawatan intensif. Penelitian Safar pada gempa di Itali 1980 menyimpulkan bahwa 25 sampai 50% pasien yang terluka dan sekarat dapat diselamatkan jika pertolongan pertama yang tepat dapat diberikan segera. Aku bisa membayangkan, salah satu teman di Puskesmas Imogiri, dengan keterbatasan obat dan peralatan yang ada (bisa dibayangkan puskesmas kita seperti apa), tiba-tiba (mak jegagik bahasa Jawanya) kebanjiran pasien trauma dan sekarat. Akhirnya, dengan pertolongan seadanya ya hanya bisa melihat mereka dijemput satu per satu.
Kini memang sudah hari ke-7. Biasanya puncak kunjungan pasien untuk mencari pertolongan medis pada hari ke 3 sampai ke 5. Setelah itu, mulai hari ke-6 akan kembali normal. Sehingga rumah sakit lapangan dengan peralatan yang canggih-canggih yang datang setelah 1 minggu atau lebih pasca gempa sudah terlambat. Pengalaman di Mesir pada tahun 1992, 70% pasien dengan trauma mulai mendapatkan perawatan pada 36 jam pertama.

Yang perlu diperhatikan justru rusaknya fasilitas kesehatan di daerah setempat yang akan membutuhkan waktu lebih lama untuk diperbaiki kembali. Di Jogja, kerusakan fasilitas medis mungkin tidak memberikan dampak sebesar di Aceh. Rasio jumlah tempat tidur terhadap populasi maupun jumlah tenaga kesehatan terhadap populasi saya kira masih bagus. Tetapi aspek psikologis mereka belum tentu setegar fisiknya lho.

Kembali ke Bapak kita tadi itu. Pernyataan pak Wapres tersebut kelihatannya diamini dari sepinya fasilitas kesehatan asing. Rumah sakit lapangan Tentara Diraja Malaysia serta RS Singapura di Bantul tidak banyak dikunjungi pasien. Yang menarik, RS Kustati Solo memberikan pernyataan yang berbeda. Seakan membantah pernyataan Bapak Wapres kita itu, mereka justru terbantu oleh dokter spesialis ortopedi yang ada di sana. Berita Detik lainnya malah mengabarkan akan datangnya 69 tenaga medis Pakistan.

Mau tambah bingung lagi? Pak Jusuf Kalla pernah mengatakan pada Senin (29 Mei), hari ketiga bencana,”dua belas rumah sakit yang ada tidak cukup untuk menampung dan menangani korban bencana…tenaga medis masih sangat dibutuhkan karena ada ribuan orang yang perlu dioperasi..” Ditambahkan lagi “Pemerintah Kuba mengirimkan seratus dokter terbaiknya dan pemerintah Rusia akan mengirimkan dokter spesialis tulang.”

Heh…itu dokter segitu udah pada datang kali ya…jadi pak Wapres minta distop aja. Tapi tunggu dulu, waktu meminta bantuan tenaga medis dihentikan ada tapinya, “Kecuali bantuan alat medis yang mahal,” tandasnya.

Oalah….kalau berjiwa saudagar itu memang lain kok…

Satu Tanggapan to “Hmmm…Bapak kita yang satu ini…..”

  1. andiaz radiant Says:

    kenapa sih kshatan msarakat indonesia smakin tidak d hiraw kan..?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: