disaster preparedness juga termasuk mengentaskan kemiskinan

Dupuluh tujuh Mei 2006 barangkali akan menjadi tanggal yang paling diingat oleh warga Bantul (dan DIY umumnya) sebagaimana 26 Desember 2004 oleh masyarakat Aceh. Tidak menduga sama sekali bahwa wilayahku akan mengalami gempa sedemikian dahsyatnya. Pengalaman ke Aceh pasca tsunamipun ternyata belum memberikan panduan disaster preparedness yang praktis bagi diriku sendiri. Dengan besarnya korban serta kerusakan infrastruktur yang terjadi di Jogja dan Jateng, kita menjadi diingatkan kembali bahwa bencana dapat menimpa siapa saja, kapan saja, dimana saja, termasuk diri kita sendiri. Gempa ternyata tidak memperhatikan ada tidaknya figur sultan, yang begitu dikagumi dan dihormati oleh masyarakat Jogja sebagai simbol keluhuran budaya. Sama halnya tsunami dan gempa di Aceh tidak peduli bahwa wilayah tersebut memiliki julukan serambi mekah serta daerah dengan penerapan syariah islamiah. Dalam satu kolomnya di Kompas pasca tsunami, Emha ‘menggugat’ Tuhan mengapa tidak memberikan bencana ke wilayah yang dipenuhi koruptor misalnya.

Tanpa harus menggugat Tuhan, mempromosikan waspada terhadap bencana (disaster preparedness) kepada masyarakat seharusnya lebih diperkuat, dan ini membutuhkan upaya yang luar biasa. Dalam berbagai kesempatan, aku pernah menulis bahwa dinas kesehatan perlu memiliki disaster preparedness. Melihat kejadian ini, masyarakatlah yang perlu pertama kali memilikinya (dan untuk hal inipun aku tidak menyadarinya). Waktu ke Aceh, aku nggak bisa membayangkan bahwa kejadian yang sama pun bisa terjadi di Bantul. Ada kata-kata sombong yang tidak terucap…“ah…nggak mungkin..”. Tetapi akhirnya terjadi juga.

Dua minggu yang lalu, berita Merapi disiarkan di CNN dan dikomentari bahwa Indonesia adalah negara dengan 200-an gunung dan sebagian besar aktif. Tetapi, aku juga tidak merasa ngeri dan takut. Seharusnya, aku juga takut, karena aku tidak tahu pasti, apakah rumahku sudah memiliki bangunan tahan gempa, juga gedung kantor tempat aku bekerja. Sebagian besar rumah yang hancur dan luluh lantak di Bantul adalah rumah dengan konstruksi non permanen. Kembali lagi, ini terkait dengan kemiskinan. Anderson menuliskan bahwa 95% kematian terkait dengan bencana terjadi pada 66% penduduk dunia yang hidup di negara-negara miskin. Ada kesenjangan yang cukup besar antar negara kaya dengan miskin dalam hal rasio kematian per bencana. Di negara kaya, rata-rata terdapat 500 kematian setiap bencana sedangkan di negara miskin(dan berkembang) mencapai 3000 kematian setiap bencana. Mereka yang berada di negara berkembang jelas lebih berisiko karena tidak mampu membangun rumah yang tahan gempa, banyak hidup di daerah pesisir yang memiliki risiko tinggi terhadap badai, gempa yang menyusulkan tsunami (syukur tidak terjadi di Bantul), desakan ekonomi sehingga tinggal di perumahan di bawah standar, rawan longsor atau pinggiran kawasan industri dengan limbah berbahaya serta tidak terdidik dengan perilaku dan tindakan penyelamatan saat bencana berlangsung. Sehingga, mengangkat manusia dari jeratan kemiskinan sebenarnya juga mengamankan mereka dari ancaman bencana.

Penyebab bencana dari tahun ke tahun tidak berubah, tetapi korban selalu bertambah. Dalam buku Eric K Noji bencana selalu memerlukan effort yang luar biasa untuk membangun kembali, sebagaimana tertulis dalam definisinya“a disaster is the result of a vast ecological breakdown in the relation between humans and their environment, a serious and suddent event (or slow, as in a drought) on such a scale that the stricken community needs extraordinary efforts to cope with ith, often with outside help or international aid” .

Karena disaster preparedness dimulai dari sendiri, kini aku juga sedang mencari tahu, bagaimana konstruksi bangunan tahan gempa yang terjangkau, sebelum merenovasi rumah. Aku bersyukur, keluargaku tidak menjadi korban, tetapi berduka karena banyak warga yang tidak selamat. Semoga Tuhan mengampuni kita dan memberikan kekuatan menghadapi cobaan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: