Selamat untuk dr, Nawi Ng, MPH, PhD


Kemarin baru saja posting tentang transisi epidemiologis, kolega saya di Bagian IKM telah menuliskannya menjadi disertasi yang menarik, Chronic disease risk factors in a transitional country The case of rural Indonesia(Faktor risiko penyakit kronis di negara dalam transisi –Studi di daerah pedesaan Indonesia) dari Department of Public Health and Clinical Medicine, Umeå University, Swedia. Disertasinya, dalam bentuk file pdf dapat didownload di sini. Pertama, saya mengucapkan selamat buat dr Nawi. Dia adalah salah satu kolega saya yang sangat smart. Semua mengakuinya. Banyak mahasiswapun menjadikannya sebagai dosen favorit karena “neranginnya enak”, “hal yang sulit menjadi mudah mudah dipahami”, tetapi “tidak mudah juga kalau sudah bicara ujian”.
Yang mengharukan dari disertasi mas Nawi adalah testimoni mengenai almarhum dr. Suharyanto Supardi, MPH, MSPH. Kita, yang sempat mengikuti kuliah beliau, paham betul dengan kebiasaan merokoknya yang mengantarnya ke peristirahatan terakhir melalui kanker paru. Sebagai yuniornya di FETP, mas Nawi mengungkapkan secara emosional kedekatan dia baik secara akademik maupun personal serta bagaimana dia mendedikasikan disertasinya untuk almarhum. Semoga Allah mengampuni, mengasihi, memaafkan kesalahan serta memudahkannya. Amien. Aspek emosional semacam ini yang tidak aku temukan di beberapa publikasi disertasi di Groningen. Mungkin karena namanya Groningen jadi garing ya… (sama-sama depannya pakai huruf G, di sini bacanya khe)
Kembali ke transisi epidemiologis, mas Nawi menguraikan dengan gamblang teori Omran tentang transisi epidemiologis serta kontroversi mengenai teori tersebut di bagian introduksinya. Selanjutnya, beliau mempertajam topiknya mengenai penyakit kronis, yang relatif terabaikan di Indonesia (baru beberapa waktu yang lalu saja khan, direktorat jendral pemberantasan penyakit menular alias PPM berganti menjadi P2PL pemberantasan penyakit dan penyehatan lingkungan?). Salah satu hasil temuan dari penelitian di Purworejo tersebut menggarisbawahi bahwa kelompok miskin dan perempuan memiliki peningkatan prevalensi faktor risiko penyakit kronis dibanding yang lain (aduh…selalu saja dengar kabar yang tidak menggembirakan mengenai dua kelompok tersebut ya…?). Dengan pendekatan kualitatif serta menerapkan metode WHO penelitian ini memberikan insight yang lebih dalam mengenai gambaran penyakit kronis di lingkungan pedesaan di Indonesia. Dalam salah satu rekomendasinya untuk para pengambil kebijakan, mas Nawi menulis bahwa “kebijakan nasional untuk pengendalian rokok perlu menekankan pada usaha untuk mewujudkan norma bebas rokok terutama pada anak-anak dan laki-laki dewasa”. Namun, saya merasa bahwa ada kecenderungan yang cukup kuat bahwa di kalangan perempuan perkotaan, norma merokok sekarang juga menjadi salah satu nilai modernitas yang di kalangan tertentu (artis atau mereka yang bergerak di bidang entertainment) mungkin dianggap sebagai sesuatu yang sangat wajar. Bahkan ada yang beranggapan “penyanyi (perempuan) yang merokok suaranya bagus”. Anyway, selamat untuk mas Nawi, selamat meneruskan perjuangan…semoga aku cepat tertular (tertularnya akut wae…ojo kronik yo…he..he..he.)
Daftar artikel terkait dengan disertasi pak Nawi:
Using STEPS to study risk factors in rural Indonesia
Smoking Epidemics And Socio-Economic Predictors Of Regular Use And Cessation:
Findings From WHO STEPS Risk Factor Surveys In Vietnam And Indonesia
.

2 Tanggapan to “Selamat untuk dr, Nawi Ng, MPH, PhD”

  1. Dani Iswara Says:

    selamat pak nawi, dosen favorit nih memang..

  2. anis Says:

    sama pak anis favorit mana (wah narsis nih….he..he..he..he..)

    *tutup kuping, nggak untuk dijawab*


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: