Transisi epidemiologis apa transisi kesehatan?

Sering kita mendengar atau membaca dalam berbagai kesempatan – seminar, makalah, dokumen kebijakan, dll – istilah “transisi epidemiologis”. Contoh saja salah satu sambutan Menteri Kesehatan di salah satu halaman Depkes yang berkaitan dengan kesehatan Jiwa:”Berbagai perubahan yang sangat cepat telah terjadi dalam masyarakat Indonesia. Transformasi dari masyarakat agraris ke masyarakat industri, transformasi demografik dari struktur penduduk usia muda ke usia lanjut dan proses urbanisasi. Hal ini mendorong terjadinya transisi epidemiologis masalah kesehatan termasuk di dalamnya masalah kesehatan jiwa yang muncul dalam bentuk ketergantungan zat psikoaktif, penyebaran yang cepat HIV/AIDS yang terkait dengan perilaku seksual dan tindak kekerasan baik dalam rumah tangga maupun di masyarakat…….”

Saya tidak akan menulis tentang kesehatan jiwa tentu saja. Tentang transisi epidemiologis ini, adalah Abdel Omran yang pertama kali mencetuskan teori tersebut pada tahun 1971. Dengan mengamati perkembangan kesehatan di negara industri sejak abad 18, dia menuliskan bahwa ada 3 fase transisi epidemiologis yaitu 1)The age of pestilence and famine, yang ditandai dengan tingginya mortalitas dan berfluktuasi serta angka harapan hidup kurang dari 30 tahun, 2)The age of receding pandemics, era di mana angka harapan hidup mulai meningkat antara 30-50 dan 3)The age of degenerative and man-made disease, fase dimana penyakit infeksi mulai turun namun penyakit degeneratif mulai meningkat. gambaran itu memang untuk negara Barat.Kritikan dari beberapa tokoh seperti Rogers dan Hackenberg (1987) dan Olshansky and Ault(1986) membuat Omran melakukan sedikit revisi. Bagi negara Barat, ketiga model tersebut ditambah 2 lagi yaitu: 4)The age of declining CVD mortality, ageing, lifestyle modification, emerging and resurgent diseases ditandai dengan angka harapan hidup mencapai 80-85, angka fertilitas sangat rendah, serta penyakit kardiovakular dan kanker, serta 5)The age of aspired quality of life with paradoxical longevity and persistent inequalities yang menggambarkan harapan masa depan, dengan angka harapan hidup mencapai 90 tahun tetapi dengan karakteristik kronik morbiditas, sehingga mendorong upaya peningkatan quality of life.

Selain itu, Omran juga membuat revisi model transisi epidemiologis untuk negara berkembang dengan mengganti fase ketiganya menjadi “The age of triple health burden” yang ditandai dengan 3 hal yaitu: a) masalah kesehatan klasik yang belum terselesaikan (infeksi penyakit menular), b)munculnya problem kesehatan baru dan c)pelayanan kesehatan yang tertinggal (Lagging). Sehingga, yang menjadi pertanyaan adalah jika negara berkembang sudah dapat mencapai angka harapan hidup 70 tahun, apakah mereka juga akan mengikuti fase keempat dan kelima seperti di negara Barat? Apakah nanti ada proposisi baru dari Omran? Sehingga, yang kita saksikan, memang tidak hanya transisi dalam aspek epidemiologis saja, tetapi sistem pelayanan kesehatan menjadi salah satu kunci pentingnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: