Van Gogh: perjuangan dan prestasinya untuk orang lain…

Kemarin bareng teman-teman berkunjung ke museum Van Gogh di Amsterdam. Dengan tiket Blokker 12,95 Euro, kita sudah bisa jalan ke seluruh Belanda seharian di setiap week end. Tetapi hanya berlaku sampai (kalau gak salah) 11 Juni nanti. Kumpul dulu di tempat Itop jam 5.30, nunut sarapan seperti biasa. Kereta berangkat pkl 6.30 menuju ke Schiphol njemput mbak Ike, kemudian lanjut ke Amsterdam Central. Setelah nitipin tas, kita jalan ke museum. Kesan pertama… banyak orang. Maklum, selama di Groningen aku nggak melihat banyak orang. Waktu KoningenDaag aku juga nggak keluar, hari Jumat kemarin juga. Jadi surprise aja. Mampir di KFC dulu (mbak Ike protes:”nggak ada bedanya dg di Indo”) sebelum melanjutkan jalan kaki.
Kita jalan melewati pertokoan sampai ke depan balai kota Amsterdam. Seperti biasa acara mejeng dimulai sebelum jalan lagi menuju ke museum. Itop jalan paling depan, karena dia yang sudah hafal Amsterdam. Akhirnya sampai juga di depan museum menjelang pukul 12. Antrinya sudah cukup panjang. Sempat antrinya berhenti, karena pengunjung terlalu banyak. Waduh… jangan-jangan nggak buka lagi, ternyata nunggunya tidak lama. Kalau dihitung panjangnya. antriannya tidak sepanjang antrian masuk Louvre pada hari gratis. Dengan biaya 10 Euro kita akhirnya masuk juga ke museum juga. Sambil masuk, aku sempat mikir-mikir, di Indonesia aku pernah masuk ke museum mana aja ya? Museum Affandi, sang maestro, sering kali dilewatin, tetapi tidak pernah masuk. Di Solo, ada museumnya Dullah, tetapi aku gak tahu persis lokasinya di mana. Meskipun memiliki koleksi sampai 750-an, museum tersebut kabarnya kekurangan dana dan meminta perhatian pemerintah. Padahal, biaya masuknya mungkin tidak akan sebesar 10 Euro ya..? Nggak tahu buat turis asing. Beberapa waktu yang lalu saat mengantar Rusdiana dan Jan ke Prambanan, mereka memang harus mbayar dengan tiket yang jauh lebih mahal (mungkin 10 kali lipat) dibandingkan turis biasa yang hanya membayar 5000an perak.
Btw, masuk ke museum, kita langsung menuju ke lantai 1 untuk melihat berbagai koleksi Van Gogh. Kisah dan perjalanan hidupnya banyak ditulis dimana-mana (Lihat Wikipedia, museum van Gogh Amsterdam). Yang pasti, perjuangannya benar-benar luar biasa. Dia lahir tahun 1853, setahun sebelum kisah John Snow menyelidiki kolera di London. Memulai karir sebagai pelukis bukan karena menyadari bahwa dirinya berbakat, meskipun pernah bekerja di galeri pada masa remajanya. Dia sebenarnya malah lebih tertarik dengan agama sehingga oleh orang tuanya sempat disekolahkan ke beberapa sekolah teologi, tetapi gagal. Kemudian dia juga berguru kepada beberapa orang untuk melukis. Mulai melukis pada akhir 20-an, tetapi hidupnya berakhir dengan bunuh diri pada usia 37 tahun. Pada rentang waktu 10 tahun dia menghasilkan sekitar 1000an karya lukisan, tulisan serta kumpulan suratnya untuk Teo, kakak kandungnya sekaligus sahabat yang selalu memberikan bantuan keuangan. Pada awal karirnya, dia merasa orang tidak menghargai hasil karyanya. Memang waktu itu hasil karyanya sangat suram dan tidak disukai oleh para penikmat seni di Paris, dimana Teo bekerja di sebuah galeri seni. Oleh kakaknya dia diminta belajar lagi menggunakan warna cerah. Dia kemudian sempat tinggal di Paris dengan warna lukisan yang baru. Kemudian pindah lagi ke Prancis bagian selatan, sampai akhirnya mengalami gangguan jiwa. Sempat tinggal di rumah sakit jiwa, sebelum akhirnya bunuh diri. Kakaknya Teo, akhirnya meninggal 6 bulan kemudian, menyusul adiknya. Suram sekali deh…. Tetapi, kalau melihat sekarang ini.. Vincent adalah pahlawan bagi negaranya. Berapa banyak orang yang hidup dari meniru gaya lukisannya, membuat replika dan merchandise, merawat lukisannya, menjadi pengamat seni, pengajar seni, kurator seni, pembuat novel, film (lust for life), lagu (starry,starry night…) Berapa banyak orang yang berkunjung, membeli merchandisenya, sementara nilai lukisannya terus menjulang. Sayang bukan dia yang menikmati…. (mmmm apakah “di sana” dia menikmatinya….?)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: